Chino Hadapi Petinju AS

Kompas.com - 03/09/2008, 15:39 WIB

PONTIANAK, RABU - Petinju asal Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Daud "Chino" Jordan akan menghadapi petinju asal Amerika Monti Meza Clay, 7 September mendatang di Los Angeles, Amerika Serikat.

"Saya sangat bangga dan senang karena menjadi atlet tinju pertama akan menantang petinju asal Amerika," kata Chino, di Pontianak, Rabu (3/9).

Banyak hal yang dipersiapkan Cino menghadapi pertandingan nantinya, salah satunya dengan lebih memadatkan jadwal latihan setiap harinya.  Pria kelahiran Ketapang, Simpang Empat 10 juni 1986 ini mengakui apa yang diraihnya hingga hari ini dikarenakan latihan yang keras dan sungguh-sungguh.

Ia mengatakan, selain melakukan latihan dan kerja keras, saat ini juga mempelajari teknik lawannya Meza dengan menonton setiap pertandingan yang dilakukan lawannya melalui internet atau rekaman video.  "Kita sudah membaca kalau lawan saya nantinya punya kelebihan dengan pukulan kidal dan lebih menyukai pukulan-pukulan sebagai hadiah kepada lawanya," ujar Cino.
   
Untuk itu, saat ini ia sedang menekankan latihan melawan petinju teknik melawan lawan yang bertangan kidal. "Karena selama ini saya belum pernah dihadapkan pada lawan dengan tangan kidal, beruntung saudara saya Yohanens Jordan petinju kidal, sehingga bisa berlatih dengan beliau," katanya.

Prestasi lain yang sebelumnya pernah diraih Cino adalah juara Asia Pasifik rangking tiga dunia WBO dengan prestasi 23 kali bertanding dengan 17 KO dan lima menang angka. Terakhir kali ia mengalahkan petinju Thailand, Vridid Luyatoi, Mei 2007.

Chino mengenal tinju dari saudaranya, Damianus Jordan yang merupakan petinju andalan Kalimantan Barat dan nasional dekade 80-an.

Menurut Damianus, hanya tinju yang bsia membuat keluarga mereka kluar dari masalah ekonomi sebagai keluarga petani miskin. Berkat kegigihan Damianus, Daud akhirnya bsia bertemu pelatih tinju amatir Jesus Carlos venate Torres dari Kuba dan Herman Mimpi, pemilik sasasana tinju di Ketapang.    "Akhirnya kami sekeluarga diajak ke Pontianak untuk berlatih dan menggeluti olahraga tinju," kata Chino.

Chino, anak kelima dari pasangan Natalie dan Laie Chun atau Hermanus sangat mencintai dunianya sekarang. Baginya banyak hal dan pelajaran yang dirasakannya selama menggeluti dunia tinju.
   
Nama Chino, ia dapat dari pemberian pelatihnya Jesus melihat ia bermata sipit.  Kini empat dari enam saudaranya adalah petinju termasuk dirinya, di antaranya, Damianus Jordan (juara tinju nasioanal Indonesia), Petrus Jordan (rangking pertama nasional), Yohanes (petinju amatir Kalimantan Barat yang belum pernah kalah dan kini juga menjadi anggota Brimob).
   
Ia selalu mengingat pesan orang tuanya yang menurutnya menjadi cambuk untuk menang, yaitu "kalau bertanding di sana hati-hati, semoga menang dan baik-baik saja". (Antara)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau