JAKARTA, RABU - Ada yang mengatakan, pemimpin negara yang baik harus bisa merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Rakyat berkeringat, pemimpin juga harus berkeringat.Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir dan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, sama-sama merasa sudah 'berkeringat'.
Meski tak menunjuk individu, pengamat politik Ikrar Nusa Bakti berpendapat orang-orang yang tiba-tiba muncul lewat iklan dan mendeklarasikan diri sebagai pemimpin, bukanlah orang yang berjuang dari awal.
"Kita lihat Gus Dur jadi Presiden karena kecelakaan politik, Megawati naik karena kebetulan Gus Dur jatuh. SBY tidak ada pengalaman di bidang politik, selain di birokrasi. SBY juga tidak pernah berkeringat masuk partai. Orang yang tiba-tiba muncul juga tidak pernah berkeringat, tapi tiba-tiba mau jadi pemimpin," kata Ikrar dalam dialog kenegaraan di Gedung DPD, Rabu (3/9).
"Kalau orang bilang saya nggak berkeringat, biar saja. Kan saya tidak perlu bilang kalau saya ini sebenarnya berkeringat. Saya jadi pengusaha juga berkeringat. Saya bilang, emang gue pikirin orang mau ngomong apa. Pak Wiranto juga berkeringat, jadi jenderal berjuang sejak dia kopral," ujar Soetrisno menanggapi pernyataan Ikrar.
Demikian pula Wiranto. Mantan Menkopolkam ini mengatakan, ia juga berjuang untuk membangun partainya, Hanura mulai dari nol. "Saya juga berjuang dan berkeringat untuk membangun partai baru, dari tidak ada apa-apa, menjadi partai yang dikenal," ujarnya.
Menurut Ikrar, masyarakat tetap akan menilai bagaimana keseriusan tokoh-tokoh yang akan maju pada Pilpres 2009. Tak semata-mata karena popularitas dan dikenal saja. Terutama, bagaimana mereka menyinkronkan antara kata-kata dan perbuatan. Apalagi, tokoh-tokoh baru ini belum diketahui bagaimana kinerjanya dibandingkan pemimpin-pemimpin yang sebelumnya pernah memimpin negeri ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang