Pemkab Purworejo Lepas Tanggung Jawab Soal Supertoy

Kompas.com - 05/09/2008, 21:51 WIB

PURWOREJO, JUMAT - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo, dari tingkat desa sampai kabupaten, menyatakan tidak terlibat dalam proyek penanaman padi Supertoy HL-2 meski mengambil tempat di wilayah kabupaten Purworejo.

"Pemkab hanya membantu melakukan pengawasan, tidak terlibat dalam kerja sama itu," kata Bupati Purworejo Kelik Sumrahadi di Purworejo, Jumat (5/9). Pemda Purworejo mengawasi proyek tersebut lewat Dinas Pertanian dan Peternakan dan Dinas Pengairan.

Bupati Kelik menyatakan, proyek penanaman padi di areal seluas 103,01 hektar milik 449 petani itu murni kerjasama antara masyarakat Desa Grabag dengan PT SHI asal Jakarta. Proyek penanaman padi kerjasama antara PT Sinar Harapan Indopangan (SHI) dengan warga Desa Grabag, Purwerojo, ini menuai kontroversi setelah para petani mengeluh gagal panen.

P.T. SHI memang pernah memaparkan rencana penanaman jenis padi yang sekali tanam bisa panen hingga tiga kali tersebut sekitar tahun 2007. Bahkan Bupati mengaku sering hadir saat sosialisasi yang berlangsung dari Oktober hingga Desember 2008.

"Saya tidak memberikan instruksi apa pun," kata Bupati.

Kepala Desa Grabag Gandung Sumriyadi juga mengaku bahwa PT SHI tidak pernah meminta izin kepadanya saat hendak melakukan ujicoba penanaman padi Supertoy HL-2 di desanya. Meski begitu, PT SHI pernah membuat surat kesanggupan memberi ganti rugi jika petani gagal panen.

Penanaman padi Supertoy HL-2 di Desa Grabag ini sendiri berlangsung pada Januari 2008. Pada 17 April 2008 proyek itu berbuah panennya yang pertama. Saat itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah menteri hadir dan berdialog dengan petani tepat di pesawahan tempat supertoy ditanam.

Hasil panen padi ternyata di bawah perkiraan yang menyebutkan bisa menghasilkan gabah kering hingga 14,6 ton per hektar. Kenyataannya, yang bisa dipanen hanya 3,5 ton per hektar.

Permasalahan memuncak saat panen kedua, ternyata para petani harus mengalami kegagalan panen sehingga mereka resah. Para petani kemudian melakukan aksi di tengah areal persawahan padi Supertoy HL-2 dengan membakar tanaman padi seraya menuntut PT SHI ganti rugi sebesar Rp1,65 miliar.

"Padinya gabuk, padahal ini mau lebaran," kata Gandung. Kini, seperti dituturkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pemkab Purworejo Jumali, Pemkab sedang melakukan pendataan terhadap gagal panen dalam proyek supertoy tersebut.

"Hasilnya kita sampaikan ke pemerintah pusat di Jakarta. Kami mengharapkan ada bantuan benih untuk warga, jenis IR-64 atau Ciherang," kata Jumali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau