Adrian Mutu: Hidupku di Italia

Kompas.com - 08/09/2008, 04:15 WIB

PERJALANAN karier Adrian Mutu penuh dengan suka-cita. Pemain asal Rumania ini datang ke Italia pada 1999, kemudian sempat pindah ke Chelsea. Di klub Inggris itu, dia dipecat karena kedapatan menggunakan doping.

Sekarang, dia sudah dua tahun bersama Fiorentina. Dan, di klub ini dia merasa mengalami renaisance, kebangkitan untuk meraih karier yang lebih baik.

Dulu, klub berjuluk La Viola itu punya pemain bindang dan idola  bernama Giancarlo Antognoni. Kemudian, perannya diganti Roberto Baggio, beralih ke Gabriel Batistuta, Luca Toni dan sekarang Mutu dianggap idola baru.

Sangat impresif bagaimana Adrian Mutu bisa menjadi idola Kota Florence. Dia malah sudah mendapat julukan, Giotto Fiorentina. Dia seperti seorang seniman yang melukis sepakbola di Kota Florence yang memang menyukai seni.

Dia mulai banyak mencetak gol dan assist secara konsisten. Striker berkelas dunia yang dinilai terbaik di Italia bersama Zlatan Ibrahimovic. Untuk bisa memahami bagaimana Mutu dihormati dan dipuja, lihat saja bagaimana dia diperlakukan publik di seantero kota. Orang-orang Tuscan, terutama warga Florence, selalu memberi sambutan hangat kepadanya.

Berikut wawancara dengan Adrian Mutu yang disadur dari Italian Football.

Mutu, ini tahun keduamu di Fiorentina dan kamu sekarang menjadi striker utama setelah Luca Toni pergi. Bagaimana pendapatmu?

"Aku bekerja seperti orang gila untuk mendapatkan semua ini. Anda bisa melihatnya di lapangan. Aku berlatih sangat keras, hidup untuk sepakbola dan kepalaku hanya berpikir untuk Fiorentina dan keluargaku. Selama dua tahun aku sadar, betapa menyenangkannya hidup hanya untuk sesuatu yang aku cintai."

"Ini sensasi yang sangat fantastis. Aku bangun pagi bersama istriku, Consuelo, dan putriku, Adriana. Kemudian aku pergi berlatih dan merasa seperti orang terbahagia di dunia. Aku bisa makan siang bersama keluarga di rumah, atau kadang pergi bersama ke restaurant. Kemudian, aku istirahat dan menghabiskan sore di kota yang penuh toko. Aku benar-benar merasakan hidup yang fantastis."

Beberapa waktu lalu saat menjalani fisioterapi, kamu katanya sempat tertidur?

"Liga Serie-A, Liga Champions, dan tampil bersama timnas menghabiskan waktu dan setiap orang merasa kelelahan. Ketika aku tertidur, saat itu benar-benar tak kuasa menahan kantuk."

Hari ini, jika orang menyebut Fiorentina sama saja menyebut namamu?

"Menjadi striker dan sedang dalam bentuk permainan terbaik akan selalu menjadi headline surat kabar. Tapi, kami adalah tim."

Bagaimana hubunganmu dengan striker lain?

"Kami selalu berusaha saling mengerti dan bekerja sama dengan sebaik mungkin."

Sejauh mana Fiorentina bisa berprestasi?

"Aku berharap, setidaknya bisa masuk empat besar lagi."

Bagaimana jika Fiorentina menjualmu ke klub lebih besar?

"Berapa banyak sih klub yang lebih kuat dari Fiorentina? Taruh kata AC Milan dan Inter Milan. Mereka sudah punya Kaka dan Ibrahimovic. Jadi, tak mungkin mereka akan membeliku hanya untuk menjadi pemain cadangan. Kemudian Roma punya Francesco Totti, sedangkan Juventus sudah punya Alessandro Del Piero."

Maaf, Del Piero tak lama lagi menjadi idola dan pemain utama, karena usia?

"Aku tak tahu, tapi dalam beberapa kasus, akan sangat rumit untuk kembali bermain di klub yang pernah aku perkuat (Juventus, Red). Aku punya hubungan fantastis bersama pelatih Claudio Ranieri ketika kami masih sama-sama di Chelsea. Tapi, jika harus pindah, aku lebih suka pindah ke klub lain selain Juventus."

Apakah kamu pemain yang lebih lengkap daripada Toti?

"Oh, menyenangkan mendengar Anda menyebut seperti itu. Totti tetaplah Totti. Dia benar-benar pemain hebat."

Kamu sekarang juga bagus dalam bola-bola udara. Ada rahasianya?

"Temanku mengatakan kepadaku, aku mencetak gol dengan kepala lebih banyak daripada Ivan Zamorano. Dia bercanda. Tapi, itu menyenangkan. Bicara soal gol dengan sundulan, aku sering dengar lawan mengeluh dengan caraku melompat karena sikutku naik. Mereka yang tahu tentang aku pasti tak pernah berpendapat bahwa aku ingin melukai orang."

"Aku tak pernah berniat melukai siapa pun. Dalam menyundul, aku sadar lawan pasti lebih berpengalaman. Maka, aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri. Sebenarnya, saat menyundul aku melakukannya seperti pemain amatir dengan tangan masih melebar."

Apakah kamu masih berpikir suatu saat nanti pindah ke luar Italia?

"Tidak, tidak! Hidupku di Italia. Dua anakku lahir dan tumbuh di Italia."

Bermain di Fiorentina apakah tak membuatmu bosan?

"Tidak sama sekali. Aku bahkan sangat bahagia di sini. Lebih baik terus menjadi pemain inti daripada bergabung dengan klub besar tapi jadi pemain cadangan." (CH4)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau