Banjir Terjang Ribuan Rumah di Tiga Kabupaten di Kalbar

Kompas.com - 08/09/2008, 21:43 WIB

Laporan wartawan Kompas Christoporus Wahyu Haryo P

PONTIANAK, SENIN- Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Melawi, dan Sintang, dalam tiga hari terakhir mengakibatkan Sungai Kapuas dan sejumlah anak-anak sungainya meluap. Akibatnya lebih dari 1.000 rumah di tiga kabupaten terendam banjir dengan ketinggian 0,5-2 meter.  

Di Kabupaten Kapuas Hulu, banjir merendam sedikitnya tujuh kecamatan yang meliputi Kecamatan Bunut Hulu, Bika, Kalis, Embaloh Hilir, Putussibau, Nanga Mentebah, dan Bunut Hilir. Banjir tidak hanya menggenangi jalan, kebun karet, maupun ladang, tetapi juga mulai masuk ke rumah penduduk yang sebenarnya sudah tinggi karena dibangun berbentuk panggung.

Sumarni (41), warga Desa Nanga Semangut, Kecamatan Bunut Hulu, saat dihubungi mengatakan, lebih dari 300 rumah di desanya terendam banjir sekitar 1-2 meter karena Sungai Tebaung yang bermuara di Sungai Bunut dan Kapuas m eluap. Praktis aktivitas keseharian warga seperti berladang dan menoreh karet terhenti.  

"Warga mulai bikin panggung untuk siap-siap (berjaga-jaga menghadapi banjir yang semakin meninggi)," katanya. Selain itu, banjir yang terlalu lama merendam ladang milik warga dikhawatirkan akan mengakibatkan gagal panen.

Anwarman (36), warga Desa Nanga Kalis, Kecamatan Kalis, hujan lebat mengakibatkan Sungai Kalis meluap dan membanjiri ratusan rumah warga dengan ketinggian 0,5-1 meter. Dalam tahun ini, banjir sudah delapan kali melanda desanya. Padahal biasanya banjir melanda desanya sekali dalam lima tahun.

"Saya tidak pergi menoreh karena ratusan batang tanaman karet terendam banjir," katanya. Dalam sehari, ia biasanya mendapatkan hasil 40-50 kilog ram getah karet dengan harga jual Rp 10.000 tiap kilogram.

Nur Asikin (30), guru SMP Negeri Nanga Bunut yang juga baru saja pulang dari Putussibau dengan menyusuri Sungai Kapuas menggunakan speedboat, mengatakan, banjir dijumpai hampir di setiap perkampungan penduduk yang dilaluinya, antara lain di Kecamatan Putussibau, Bika, Nanga Mentebah, dan Embaloh Hilir. Dari pengakuan warga, hingga saat ini belum ada bantuan yang diberikan kepada korban banjir.

Di Kabupaten Sintang, banjir yang paling parah melanda Kecamatan Tayan Hilir. Wakil Bupati Sintang Djarot Winarno saat dihubungi mengatakan, 2-3 desa di sana sampai terisolir oleh banjir. Sejumlah delapan kel uarga terpaksa mengungsi di sekolah. Selain di Kecamatan Tayan Hilir, banjir juga melanda Kecamatan Serawai. Di sana satu rumah lanting dilaporkan hanyut ke sungai karena terseret arus banjir yang deras.

"Kami sudah mengumpulkan data daerah yang terendam banjir dan melakukan peninjauan ke lapangan. Penanganan yang cukup mendesak saat ini adalah mendistribusikan bahan pangan kepada korban banjir yang terisolir," katanya.

Banjir juga menggenagi ribuan rumah di Kabupaten Melaewi. Midi Amin (44) warga Naga pinoh, Kabupaten Melawi, menyatakan, banjir yang berlangsung dalam tiga hari terakhir hingga ketinggian 1,5 meter, mengakibatkan sejumlah sekolah tidak bisa menjalankan aktivitas belajar-mengajar. Bahkan jalan akses utama ke Kabupaten Melawi juga terendam banjir hingga ketinggian dua meter sehingga bus dari Pontianak tidak bisa tertahan di sana.

"Saya sudah tinggal di Melawi sejak sembilan tahun yang lalau, namun baru kali ini mengalami banjir yang cukup parah, katanya. Ia menambahakan, sejauh ini sudah ada posko bantuan bencana banjir di Nanga Pinoh. Sejumlah paket bantuan dari parpol juga sudah disalurkan ke warga.

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas Suhartadi mengatakan, sejumlah faktor turut menyebabkan adanya kecenderungan peningkatan frekuensi maupun intensitas banjir akibat meluapnya Sungai Kapuas. Selain perubahan iklim di dunia dan curah hujan yang cukup tinggi, kekritisan DAS Kapuas juga memengaruhi banjir di sana.

"Selain merehabilitasi DAS yang kritis, pemerintah daerah juga perlu disiplin menerapkan kebijakan penataan ruang, khususnya dalam menjaga areal yang memiliki fungsi lindung," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau