Polisi Amankan Anggota Jaringan Narkoba

Kompas.com - 12/09/2008, 19:10 WIB

BANDAR LAMPUNG, JUMAT - Tim Satuan Narkoba Kepolisian Kota Besar atau Poltabes Bandar Lampung berhasil menangkap satu anggota jaringan narkoba berinisial Sup dan menyita 6.694 butir ekstasi senilai lebih dari Rp 1 miliar. Kasus tersebut diduga melibatkan salah satu oknum anggota Polri di salah satu kesatuan di Natar, Lampung Selatan.

Kepala Poltabes Bandar Lampung Komisaris Besar Polisi Syauqie Achmad, Jumat (12/9) dalam acara gelar kasus di Poltabes Bandar Lampung mengungkapkan, terbongkarnya jaringan perdagangan narkoba dengan hasil berupa penyitaan 6.694 butir ekstasi bermula dari operasi yang digelar Stauan Narkoba Poltabes Bandar Lampung, Kamis (11/9).

Kasat Narkoba Poltabes Bandar Lampung Ajun Komisaris Polisi M Eka Faturrahman mengatakan, pada Kamis sore pukul 15.00 dua petugas Satuan Narkoba yang menyamar sebagai pemakai, melakukan transaksi berupa pembelian 50 butir ekstasi warna hijau berlogo S kepada tersangka Sup (29). Transaksi dilakukan di perempatan lampu merah Jalan Untung Suropati, Kedaton, Bandar Lampung.

Dari transaksi tersebut petugas kemudian mengamankan Sup dan 50 butir ekstasi. Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan menggeledah rumah tersangka di Jalan Kiwi, Gang Harimau III No.33 Kedaton, Bandar Lampung.

Namun, di rumah tersangka petugas tidak menemukan apapun. Kemudian, berkat kejelian petugas, polisi berhasil menemukan rumah kontrakan tersangka di Jalan Kopi, Perumnas Way Halim, Bandar Lampung. Di rumah itu petugas menemukan 6.694 butir ekstasi berbagai jenis yang dikemas rapi dalam 264 paket dan disimpan dalam kotak sepatu.

Ke-6.694 butir ekstasi itu terdiri atas 539 butir ekstasi warna kuning berlogo ikan lumba-lumba, 4.455 butir ekstasi warna hijau berlogo S , 875 butir ekstasi warna orange berlogo bintang, 10 butir ekstasi warna orange berlogo matahari, dan 8 15 butir ekstasi warna abu-abu.

Hanya saja, pengungkapan kasus tersebut cepat menyebar. Hingga pukul 22.00 petugas kesulitan menangkap pemasok pil-pil tersebut.

Dari rumah itu, selain menyita ribuan pil, petugas juga mengamankan tuga barang bukti. Yaitu satu unit sepeda motor merek Honda Revo bernomor polisi BE 5447 C, satu buah telepon genggam merek NOKIA tipe 6300, serta satu lembar KTP milik tersangka Sup.

Lebih lanjut Kapoltabes Bandar Lampung mengatakan, dari pemeriksaan terhadap tersangka, polisi mendapati keterlibatan satu satu oknum anggota Polri. Tersangka menyebut oknum tersebut bernama Sm.

Kepada polisi dan wartawan, Sup mengaku ia hanyalah pengantar barang atau kurir. Ia sudah mengantarkan barang-barang yang sebetulnya milik Al tersebut sejak pertengahan Agustus 2008. Al mendapatkan barang-barang itu dari Sm yang mengaku sebagai oknum Polri, ujarnya.

Selama menjadi mitra Sm dan Al, Sup mengaku sudah empat kali mendapatkan kiriman ekstasi dari Sm. "Ini kiriman yang terbanyak, biasanya cuma 50200 butir," ujar Sup kepada polisi.

Dari bandar, satu butir dijual dengan harga Rp 100.000. Dengan perantaraan kurir, per butir ekstasi kemudian dijual dengan harga Rp 150.000 kepada konsumen, sehingga total 6.694 butir itu bernilai miliaran rupiah.

Syauqie melanjutkan, atas pengakuan Sup dari hasil pemeriksaan, polisi menduga pil-pil tersebut merupakan hasil produksi lokal atau home industry ekstasi. "Kami menduga, industri rumahan ekstasi tersebut ada di Bandar Lampung atau di provinsi lain. Sebab perdagangan narkoba biasanya merupakan jaringan dan berlangsung antardaerah," ujar Syauqie.

Sebagai bagian dari sebuah jaringan, pembongkaran kasus tersebut merupakan yang terbesar sejak 10 tahun terakhir yang berhasil diungkap di lingkungan Polda Lampung.

Polisi kini tengah mendalami dan mengembangkan kasus untuk penyidikan. Polisi juga masih terus mencari pemasok Sm dan Al yang kabur. Sementara tersangka Sup kini mendekam di tahanan Poltabes Bandar Lampung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau