Mayat Kebun Tebu Adalah Antonius

Kompas.com - 12/09/2008, 23:51 WIB

JOMBANG, JUMAT - Teka-teki identitas mayat pria tak dikenal atau Mr XX yang ditemukan di kebun tebu Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, tampaknya bakal segera terungkap. Bahkan, hampir sulit dibantah bahwa Mr XX itu sejatinya adalah Fauzin Suyanto alias Antonius, 26, warga Jl MT Haryono, Nganjuk.

Petunjuk terbaru yang kuat, barang bukti (BB) berupa baju dan jaket yang dikenakan Mr XX saat ditemukan di kebun tebu, ternyata diakui milik Fauzin. Saat ditemukan pada 29 September 2007 lalu, mayat Mr XX sudah sulit dikenali karena kondisinya rusak dan berbelatung, serta tak ada satupun kartu identitas tertinggal bersamanya. Sehingga, pakaian yang menempel pada Mr XX menjadi petunjuk paling berharga untuk menguak jati diri mayat itu.

“Polisi datang ke rumah kami beberapa waktu lalu dengan menunjukkan foto pakaian. Celana dan jaket yang ada dalam foto itu jelas milik Fauzin. Anak saya, Yanuar, yang ikut menyaksikan foto barang bukti itu juga mengatakan barang-barang itu milik adik saya,” tutur Sudarwoto, kakak kandung Fauzin, kepada Surya, Jumat (12/9).

BB yang dibawa polisi itu membuat keluarga yakin bahwa Mr XX itu Fauzin, karena sebelumnya ciri-ciri fisik Mr XX yang disebutkan polisi juga sama dengan ciri-ciri fisik Fauzin. Yakni struktur gigi tidak rata dan agak menonjol alias tongos, tinggi badan sekitar 160 cm, dan ada luka bekas knalpot di salah-satu kaki.

Selain itu, pembunuhan mayat di kebun tebu yang dinyatakan polisi terjadi pada 22 September (tapi baru ditemukan 29 September), hanya berselang sehari dengan menghilangnya Fauzin dari rumahnya yang kemudian tak kembali hingga kini.

“Dia pergi dari rumah pada 21 September 2007 setelah buka puasa. Habis itu kami tak mendengar lagi kabarnya,” kata Sudarsih, kakak Fauzin lainnya, saat ditemui di rumahnya di  Jl MT Haryono, Kelurahan Ploso, Kabupaten Nganjuk.

Meski demikian, pihak keluarga tetap akan menunggu pengumuman resmi polisi tentang identitas Mr XX. Saat ini, polisi masih melakukan uji DNA terhadap kerangka Mr XX untuk menguak identitasnya. “Kami hanya berharap, kalau memang Mr XX itu Fauzin, semoga kematiannya tak terkait dengan kasus Ryan,” ucap Sudarsih.

Selama ini, polisi berpendirian bahwa Mr XX itu adalah Asrori --warga Desa Kalansemanding, Kec. Perak, Jombang. Polisi berpegang pada identifikasi yang dilakukan keluarga Asrori setelah mereka melihat ciri-ciri fisik mayat. Hanya saja, identifikasi keluarga Asrori sebetulnya agak berbeda dengan hasil otopsi RSU Jombang terhadap Mr XX. Otopsi menyebut gigi Mr XX adalah tongos, sedangkan identifikasi keluarga Asrori mengatakan gigi Asrori adalah gingsul. Justru ciri-ciri Fauzin yang mirip dengan hasil otopsi.

Selain menyatakan bahwa Mr XX sebagai Asrori, kepolisian juga menyatakan bahwa pelaku pembunuhan mayat di kebun itu adalah tiga orang. Yakni Imam Khambali alias Kemat (31), Devid Eko Priyanto (17), dan Maman Sugianto alias Sugik (27). Bahkan Kemat dan Devid telah divonis masing-masing 17 dan 12 tahun oleh Pengadilan Negeri (PN) Jombang; sementara Sugik masih berstatus terdakwa karena masih menjalani proses persidangan. Ketiganya kini mendekam di LP Jombang.

Dengan kian menguatnya petunjuk bahwa Mr XX adalah Fauzin, dan bukan Asrori, semakin tampak jelas bahwa ketiga orang tersebut merupakan korban salah-tangkap.
Apalagi, hasil tes DNA polisi terhadap salah-satu mayat yang dikubur di belakang rumah Very Idham Henyansah alias Ryan di Tembelang, Jombang, menyatakan bahwa mayat itu adalah Asrori. Ryan malah mengakui dirinyalah yang membunuh Asrori, dengan dipukul linggis.

Kemarin, tim gabungan kepolisian yang menyidik kasus dugaan salah tangkap terhadap Kemat cs itu bertemu di Mapolres Jombang. Ada yang mengundang perhatian dalam pertemuan tim yang beranggotakan 20 polisi itu. Kapolres AKBP Slamet Hadi Supraptoyo ikut hadir. Kehadiran Slamet makin menguatkan bahwa Mr XX adalah Fauzin karena Fauzin berasal dari Nganjuk.

Pertemuan dilakukan secara tertutup dan berlangsung hampir 3 jam, mulai pukul 13.30 WIB hingga 16.00 WIB. Tampak petinggi dari Mabes Polri berbintang satu, serta sejumlah penyidik yang menangani kasus salah tangkap terhadap Kemat, Devid, dan Maman Sugianto.

Belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait hasil pertemuan tersebut. Seluruh petinggi polri yang ikut pertemuan bungkam dan menghindar dari kejaran wartawan.

Kasat I Pidum Ditreskrim Polda Jatim, AKBP Susanto, yang sebelumnya dikenal cukup akrab dengan wartawan, kali ini bersikap sama. Susanto langsung meninggalkan Mapolres Jombang mengendarai mobil warna hitam B 8752 LP, sesaat setelah perwira tinggi dari Mabes Polri pergi meninggalkan Mapolres.

Hal serupa juga dilakukan Kapolres Nganjuk AKBP Slamet Hadi Supraptoyo. Tanpa menghiraukan kerumunan wartawan, perwira menengah yang mengenakan setelan warna merah tua ini langsung masuk ke mobil dinasnya, kemudian meninggalkan halaman Mapolres Jombang.

Sumber internal dalam rombongan penyidik Polda Jatim mengatakan, pertemuan tersebut guna menindaklanjuti hasil pemeriksaan tim penyidik kasus salah tangkap, yang di antara kesimpulannya menyebut Mr XX di kebun tebu diduga kuat Fauzin Suyanto.

"Saya tidak menjelaskan tujuan dan hasil pertemuan. Hanya setahu saya setelah hampir dua minggu melakukan pemeriksaan di Nganjuk, serta ada indikasi kuat mayat di kebun tebu itu Fauzin, maka dilakukan pertemuan ini," terang sumber itu.

Kapolres Jombang sendiri AKBP M Khosim, saat dikonfirmasi, menolak memberikan memberikan komentar. "Langsung tanyakan saja ke penyidiknya (Polda Jatim)," tukas Khosim, sembari masuk ruang kerjanya.(K2/ST8)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau