Budi Suwarna
Setelah memasuki dunia politik, Nurul Arifin (42) merasa sikapnya menjadi keras. Namun, sikap keras itu langsung cair ketika dia memasuki rumahnya di Puri Cinere, Depok, Jawa Barat. Mengapa? ”Karena di sini ada cinta,” ujar Nurul dengan senyum sumringah.
Bintang film top tahun 80-an yang kini aktif sebagai kader Partai Golkar itu mengatakan, di dunia politik selalu ada pertarungan yang sering membuatnya lelah dan tegang. Kadang, ketegangan akibat berpolitik terbawa sampai ke rumah.
”Untunglah, semua ketegangan akan hilang setelah saya ngobrol dengan anak-anak saya yang lucu,” katanya ketika ditemui pada Kamis (11/9) pagi di rumahnya.
Dari perkawinannya dengan Mayong Suryolaksono (47), Nurul dikarunia dua anak, yakni Maura Magnalia (14) dan Dimel (11). Kedua anaknya, kata Nurul, sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan polos seperti, ”’Kenapa sih mama berpolitik? Apa mau jadi presiden?’ Pertanyaan mereka membuat saya bisa tersenyum.”
Di rumah pula, Nurul menemukan suporter utamanya. Siapa lagi kalau bukan Mayong. ”Dia itu sumber energi buat saya. Kalau saya didera gosip atau kampanye hitam, saya pasti curhat ke Mayong. Setelah itu saya bisa tenang,” ujar Nurul.
Begitulah. Meski menurut Nurul rumahnya berantakan, di sini ada cinta dan kasih sayang. Nurul memang tidak ingin melihat rumah dari penampilan fisik, melainkan jiwa yang melingkupi rumah itu.
”Anak saya pernah bertanya, Ma, kenapa rumah kita tidak sebesar dan sebagus rumah tetangga? Saya bilang, rumah kecil tidak apa-apa, yang penting ada atmosfer cinta dan rasa kekeluargaan. Rumah bagus kalau tidak ada cintanya untuk apa.”
Saat tunangan
Rumah yang terletak di sudut itu dibeli Nurul dan Mayong ketika mereka masih bertunangan tahun 1989. ”Kami punya komitmen, setelah menikah kami tak akan nebeng di rumah orangtua. Jadi, ketika kami menikah tahun 1991, kami langsung pindah ke sini,” kata Nurul.
Rumah dengan luas tanah 456 meter persegi tersebut dibeli secara kredit selama lima tahun seharga Rp 125 juta. Setelah kredit rampung tahun 1994, Nurul dan Mayong merenovasi rumah tersebut.
”Mayong yang mendesain, makanya rumah ini seperti rumah dia di Yogya yang atapnya tinggi,” ujar Nurul. Rumah dua lantai itu kini terdiri atas empat kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang keluarga, satu ruang kerja, teras belakang, dapur, dan sebuah taman.
Nurul mengatakan, dia dan anggota keluarga biasa berkumpul di ruang keluarga yang dilengkapi fasilitas hot spot. Dengan demikian, mereka bisa berselancar di dunia internet bersama-sama. ”Kalau sudah nge-net bareng, ruang ini seperti warnet,” katanya.
Nurul dan Mayong sendiri senang bercengkerama di teras belakang yang menghadap taman. Mereka biasa sarapan pagi dan baca koran bersama di teras itu sambil menikmati udara pagi yang segar.
”Saya juga lebih senang menerima tamu di sini kecuali tamu yang formal. Saya merasa lebih nyaman,” katanya.
Teras itu tidak seberapa besar, tetapi tampak cantik. Eternitnya digantungi lampu-lampu antik yang diperoleh Mayong dari sejumlah daerah. Dindingnya dihiasi beberapa lukisan dan poster iklan zaman dulu.
”Obat Ribel. Jang paling berkuasa bagi sakit kentjing”. Begitulah salah satu poster iklan tersebut.
Barang-barang antik yang ada di rumah itu seluruhnya koleksi Mayong. ”Dia memang senang sekali mengoleksi barang-barang tua. Sebagian koleksi dia saya angkut ke rumah kami di Bandung. Kalau tidak begitu, rumah ini bisa seperti kapal pecah,” ujarnya.
Nurul sendiri mengaku senang mengoleksi taplak meja, seprai, bed cover, dan handuk. Dua hari lalu, dia baru saja pulang umroh dan oleh-oleh yang dia bawa dari tanah suci, selain kurma, ternyata handuk dan bed cover.
Meski berada di kompleks perumahan mewah, rumah Nurul tampak sederhana. Perabotan rumahnya tidak terlalu banyak. Di ruang tamu hanya ada seperangkat kursi, beberapa lukisan, serta dua patung pengantin jawa.
Di ruang keluarga ada televisi, meja makan, lemari, dan beberapa foto Nurul berukuran besar ketika dia masih menjadi model. Hanya foto-foto itulah yang menggambarkan jejak keartisan Nurul.
Semasa masih menjadi artis, Nurul sempat membintangi sejumlah film laris, seperti Naga Bonar, Beth, dan Surat untuk Bidadari.
Saat ini, jejak dia sebagai politisi justru tampak lebih kental di rumah itu. Tengok saja ruang kerja Nurul di lantai dua. Sebagian dinding di ruang kerja itu dia cat kuning, warna kebesaran Partai Golkar. Di ruang itu, kita juga bisa menemukan setumpuk materi kampanye, seperti poster dan payung warna kuning bergambar Nurul.
Ya, Nurul belakangan ini memang sedang sibuk kampanye untuk memperebutkan satu kursi DPR pada Pemilu 2009 dari daerah pemilihan Kota Purwakarta. Dia mengaku menempati urutan satu dalam daftar calon legislatif dari kota itu.
Selama masa kampanye ini, Nurul menjadi lebih sibuk. Dia harus menghadiri banyak pertemuan, mengunjungi sejumlah tempat dan bertemu dengan tim kampanyenya.
Meski sibuk, Nurul mengaku kegiatan berpolitiknya tidak sampai mengganggu keharmonisan keluarga. ”Hubungan antaranggota keluarga tetap dekat karena setiap hari saya usahakan pulang dan bertemu mereka,” ujarnya.
”Saya berusaha fleksibel saja. Kadang kami sekeluarga pergi makan bareng di Citos,” kata Nurul yang mulai menenggelamkan diri di dunia politik pada tahun 2003.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang