Bursa Masih Megap-megap

Kompas.com - 15/09/2008, 06:09 WIB

JAKARTA, SENIN - Musim panen gain (keuntungan) dan pesta pora di bursa saham sudah kini sudah usai, sekarang bursa justru harus menghadapi masa paceklik gain yang berkepanjangan dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan akan berakhir masa yang sulit ini. 

Pada perdagangan saham pekan lalu indeks sudah turun di bawah angka keramat 2.000 poin. Secara keseluruhan Indeks Harga Saham Gabungan rontok 10,8 persen menjadi 1.804,062, yang merupakan posisi terendah sejak Februari 2007. Bahkan jika dibandingkan dengan pencapaian IHSG tertinggi tahun ini 2.830,263 pada 9 januari 2008, indeks melorot hingga 36,26 persen. Pada saat itu, kapitalisasi pasar atau nilai seluruh saham yang ada di BEI mencapai Rp 1.984,92 triliun, namun pada Jumat (12/9) lalu, nilainya tinggal Rp 1,379,12 triliun, atau Rp 605,8 triliun raib entah kemana.

Sementara itu, pada pekan lalu, secara keseluruhan indeks Kompas100 melorot 12,01 persen menjadi 434,343. Serta indeks LQ45 anjlok 12,94 persen ke posisi 360,414.

Pengamat pasar modal Felix Sindhunata mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat indeks selalu saja turun dan tidak pernah lagi beranjak naik. Menurutnya kondisi perekonomian dan pasar finansial di kawasan Amerika dan Asia belum menunjukan tanda-tanda akan membaik. "Kondisi seperti ini menekan indeks di bursa-bursa regional yang berdampakjuga pada turunnya indeks di BEI, katanya seperti dikutip Antara.

Turunnya harga minyak dunia yang bahkan di bawah level 100 dollar AS per barrel, menyebabkan tekanan pada harga saham-saham  pertambangan dan perkebunan. Padahal gabungan kontribusi kedua sektor tersebut terhadap kapitalisasi pasar BEI cukup besar, mencapai 25 persen, sehingga jika harga saham perkebunan dan pertambangan turun tajam, maka dampaknya terhadap penurunan IHSG  juga cukup tajam.

Felix menambahkan menambahkan minimnya sentimen positif juga sangat berpengaruh pada penurunan indeks. Menurutnya tidak ada momentum dan sentimen positif yang dapat membuat indeks kembali rebound. "Ekspektasi investor terhadap tingkat inflasi di Indonesia masih cukup tinggi, dalam dua bulan terakhir inflasi masih tetap tinggi di atas 11 persen. Apalagi dengan BI rate yang naik menjadi 9,25 persen semakin menguatkan perkiraan mereka bahwa inflasi belum mencapai puncaknya dan masih akan bertambah besar lagi," paparnya. 

Keadaan ini tentu saja berdampak pelemahan perdagangan, karena sebagian investor mengalihkan sebagian investasinya pada instrumen investasi yang menghasilkan keuntungan di atas tingkat inflasi.

Ekonom Danareksa Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan jatuhnya indeks pada akhir pekan lalu, salah satunya merespon kenaikan BI rate menjadi 9,25 persen. Dia tidak begitu yakin kenaikan BI rate ini akan mampu meredam inflasi, pasalnya kenaikan inflasi ini lebih dominan dipicu oleh kenaikan biaya yang terus menerus terjadi.

Ketua Badan Pengawasa Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Fuad Rahmany sebelumnya mengatakan, bahwa kejatuhan indeks saham tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan hampir semua bursa kawasan/regional turut mengalaminya.

Data Januari sampai 8 Agustus 2008 memperlihatkan indeks bursa regional berguguruan dan bursa Cina yang mengalami penurunan indeks saham drastis lebih dari 50 persen. Kemudian disusul bursa Philipina, Thailand, Malaysia, Hongkong, Singapura dan Indonesia yang turun sekitar 20 persen. Nilai kapitalisasi pasar atau nilai kekayaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menyusut sekitar 15 persen dan bursa Cina yang paling parah kekayaannya menyusut hampir 50 persen.
 
Saatnya membeli?

Kalau melihat data rata-rata price earning ratio (PER) sepanjang delapan bulan 2008, maka terjadi penurunan sekitar 31,6 persen. Pada posisi Januari rata-rata PER sebesar 18,81 kali, maka pada posisi Agustus PER berada pada level 12,87 kali. Artinya rata-rata harga saham di BEI sudah lebih murah sekitar 31,6 persen. 

Secara perhitungan ekonomi rekomendasinya adalah beli saham-saham yang harganya murah ini, dengan harapan akan mendapat gain dan dividen jika saham tersebut kita simpan. Namun secara psikologis investor dihadang oleh rasa takut akibat kondisi ekonomi yang tidak menentu ini ditambah lagi inflasi yang kemungkinannya naik lagi.

Direktur Utama PT Finan Corfindo, Edwin Sinaga mengatakan sebenarnya semua harga saham yang tercatat di BEI sudah dalam posisi yang lebih murah. Namun masalahnya siapa yang berani lebih dahulu masuk atau membeli saham-saham itu. "Mereka masih diliputi kebingungan dalam membaca arah pasar dan sulit memprediksi kapan gejolak penurunan harga saham ini bakal mereda. Jika mereka masuk sekarang, besok bisa saja harga saham jatuh lebih dalam lagi," katanya.

Dia menambahakan investor dan para analis saham saat ini merasakan hal yang sama yaitu bingung menghadapi gejolak pasar saham yang cenderung terus turun, pasalnya pergerakan harga saham sudah tidak masuk akal lagi dan sulit sekali diprediksi apa yang bakal terjadi pada perdagangan saham.

Edwin menilai bursa saham Indonesia sangat membingungkan, investor mengalami kesulitan untuk memprediksi apa yang bakal terjadi pada perdagangan. "Bursa saham kita juga aneh, ketika fundamental ekonomi bagus, justru harga-harga saham terus terpuruk. Kondisi pasar saham saat ini tidak mencerminkan kondisi fundamental yang sebenarnya," ujarnya.

Dia menambahkan saat ini pasar saham hanya digerakkan oleh likuiditas bukan faktor fundamental, sehingga kalaupun indeks itu bergerak naik tidak akan dapat bertahan lama. "Pasar seperti ini riskan, begitu likuiditas tidak ada maka tidak ada lagi yang dapat menggerakan pasar," katanya.

Menurut Edwin investor bisa saja membeli saham-saham yang murah itu. Namun dia menyarankan untuk melakukan transaksi jangka pendek atau ketika mendapat gain, saham-saham tersebut langsung dijual lagi. Namun kata Edwin, investor juga dapat melakukan transaksi jangka panjang dengan alasan investasi. "Asalkan investor tersebut mempunyai dana yang berlebih dan tidak berharap mendapat gain dalam jangka pendek," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau