Mudik Naik Motor? Enggak Deh....

Kompas.com - 17/09/2008, 06:18 WIB

HARI Selasa (16/9) siang itu, Sutanto mendatangi kantor jasa pengiriman, PT Herona Express di Stasiun Senen Jakarta Pusat. Bukan untuk mengirim paket berisi pakaian, tas, atau barang-barang kecil lain. Ia justru akan mengirimkan sepeda motornya ke kampung halamannya. "Untuk lebaran," katanya singkat.

Untuk bisa mengirim motornya itu, ia terpaksa minta izin dari bosnya di kantor.

Kenapa motor mesti dikirim? Kenapa tidak dinaiki saja? Sutanto berpikir sederhana saja. Ia tak mau ketika di kampung halamannya, Wonosobo, Jawa Tengah, harus bersusah-susah naik turun angkutan umum ke sana ke mari.

Apalagi jarak tinggal kerabatnya di kampung saling berjauhan satu sama lain, sehingga sarana transportasi seperti sepeda motor sangat diperlukan untuk bisa bersilaturahim dan mobilitas lain.

Dengan pelindung dada dan sarung tangan yang belum dilepas, Sutanto langsung mendatangi loket pembayaran. "Kalau kirim paket motor ke Wonosobo berapa ya mbak?," tanya Sutanto kepada petugas yang berada di loket. "Untuk tujuan Wonosobo kita tidak melayani pak, kalau mau sampai Stasiun Purwokerto saja," jawab petugas.

Sutanto tambah bingung, sebab menurutnya jarak Wonosobo-Purwokerto masih jauh. "Kalau saya naik motor dari Wonosobo menuju ke Purwokerto itu masih satu jam setengah, itupun dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam," terangnya polos.

Setelah mengutarakan keberatan dan menjelaskannya kepada petugas yang berada di loket pembayaran, Sutanto lantas memohon kepada petugas untuk mempertimbangkan kiriman Honda Kharisma 125D miliknya, sampai rumahnya yang berada di Wonosobo. "Nggak apa-apa deh saya bayar lebih, asal sampai Wonosobo," ujar pria yang sudah 15 tahun hidup di Jakarta ini.

Namun, petugas tidak mengabulkan niatan Sutanto tersebut, dan malah balik bertanya kepada Sutanto. "Bapak jadi apa nggak sih kirim motornya?" kata petugas ketus.

Sebelumnya, Sutanto sudah dua kali menggunakan jasa pengiriman motor yang sama pada saat akan mudik lebaran, yakni pada lebaran tahun 2006 dan 2007. Dan keduanya diantar oleh PT Helena Express sampai di rumahnya yang ada di Wonosobo. Untuk biaya pengiriman motor tersebut, Sutanto dikenakan biaya sebesar Rp. 180.000.

Akhirnya setelah berpikir sejenak, Sutanto memutuskan untuk memakai jasa pengiriman tersebut. "Nggak apa-apa deh sampai Purwokerto daripada dikendarai sendiri, bisa-bisa badan bisa capek," lanjutnya.

Pengalaman mudik mengendarai motor sudah pernah dirasakan Sutanto pada tahun 2005. "Sampai rumah badan langsung masuk angin, dan loyo," terang bapak satu anak ini.

Dari pantauan, terlihat kiriman motor yang berada di PT Helena Express terjadi penumpukan, dikarenakan pada Sabtu dan Minggu (13-14/9) kemarin PT Helena Express tidak mendapat jatah pengiriman motor. (C11-08)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau