Laporan wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary
JAKARTA, JUMAT — Tragedi Pasuruan beberapa hari lalu mengundang keprihatinan. Sebuah niat baik harus berakhir dengan cara yang tragis. Sosiolog Imam B Prasodjo berpendapat, akan lebih baik jika si pemberi zakat langsung mendatangi para fakir miskin penerima zakat. Cara ini dipandang Imam jauh lebih baik dibandingkan memanggil atau mengundang kaum fakir untuk datang mengambil zakat.
"Memberi zakat secara langsung mungkin bisa memberikan kepuasan. Tapi, kalau orang yang menerima zakat diminta datang agak terlihat riyanya. Efek psikologis bagi orang yang memberi menjadi lain. Kecuali, pemberi zakat mendatangi orang miskin," kata Imam dalam diskusi "Tawuran dan Kepiluan di Bulan Ramadhan", di Gedung DPD, Jumat (19/9).
Dengan mengundang fakir miskin untuk mengambil zakat, lanjut Imam, tidak melindungi dan menghargai harkat martabat kaum miskin itu sendiri. Banyaknya orang yang mengantre mengambil zakat tidak menjamin bahwa zakat yang diberikan tepat sasaran.
"Siapa yang menjamin bahwa yang datang itu benar-benar orang miskin? Karena siapa pun bisa datang, khawatirnya yang datang bukan orang yang berhak. Beda kalau kita mendatangi, pasti kita akan tahu bahwa yang dikasih zakat itu memang orang yang berhak menerima. Jika jumlahnya lebih banyak, seharusnya ada pendataan untuk mencegah orang menerima dobel," kata Imam.
Berbeda dengan Imam, pengamat politik Islam Bahtiar Effendy berpendapat sebaliknya. Menurut dia, dalam tradisi Islam cukup banyak yang merasakan lebih nyaman dan puas untuk menyerahkan langsung, bukan karena riya. Kejadian Pasuruan, menurutnya, lebih menunjukkan adanya peningkatan kualitas kemiskinan.
"Banyak orang yang mau menerima Rp 15.000 atau Rp 30.000 menunjukkan kualitas kemiskinan meningkat. Ini jangan dibantah dengan angka. Angka itu tidak bicara apa-apa. Yang terjadi di Pasuruan itu sebuah accident, maka tidak seharusnya ada yang dijadikan tersangka," ujar Bahtiar.
Seperti diketahui, Faruk yang merupakan putra kedua pemberi zakat, H Saikhon, ditetapkan sebagai tersangka dalam kejadian tersebut. (ING)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang