BEIJING, MINGGU - Indonesia mengusulkan kepada Pemerintah China agar bersedia membuka impor buah tropis dalam upaya memperluas pasaran ekspor produk pertanian. "Kita telah menyiapkan sejumlah daftar nama sekitar 10 buah-buahan tropis, seperti mangga, pisang, dan nanas agar bisa masuk pasar China," kata Atase Perdagangan (Atdag) RI Beijing Imbang Listiyadi di Beijing, Minggu (21/9).
Menurutnya, Badan Karantina China memang sangat ketat dalam mengizinkan masuknya impor buah tropis sehingga diperlukan sejumlah syarat agar negaranya bisa menerima produk pertanian tersebut. Hal itu, katanya, memang sangat beralasan dalam upaya untuk melindungi negaranya agar tidak kemasukan hama atau penyakit yang diperoleh dari negara lain terkait dengan dibukanya impor produk pertanian.
Namun, China juga tidak bisa memberlakukan larangan impor tanpa ada alasan yang tepat, mengingat saat ini sudah menganut perdagangan bebas. Pemerintah Indonesia sendiri, kata Imbang, sudah menyampaikan daftar sejumlah buah-buhan tropis yang diusulkan bisa masuk ke pasar China, selain salak yang sebelumnya sudah dibuka aksesnya.
Khusus untuk salak, ujarnya, permintaan agar dibuka aksesnya telah diajukan antarpemerintah (G to G) ketika Komisi Bersama RI-China, September 2007, yakni Mendag Mari Pangestu bertemu dengan Mendag China (saat itu) Bo Xilai di Shanghai, China. Dalam pertemuan itu salah satu permintaan yang diusulkan Pemerintah Indonesia kepada Pemerintah China adalah agar China bersedia membuka impor salak dari Indonesia.
"Saat ini salak asal Indonesia sudah bisa masuk China sekalipun tidak berlaku umum. Namun, secara perlahan asal ada upaya peningkatan mutu tidak menutup kemungkinan salak Indonesia bisa berlaku umum masuk ke China," kata Imbang.
Khusus untuk upaya agar beberapa buah tropis Indonesia bisa masuk pasar China, ada kemungkinan dijajaki antarpengusaha swasta, tapi tentunya mendapat persetujuan dari badan karantina setempat. "Setahu saya sudah ada pengusaha nanas Indonesia yang sudah bisa masuk pasar China, tapi kebutuhan yang diminta oleh pengusaha China tidak bisa dipenuhi karena keterbatasan kapasitas produksi," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang