Ramadhan di Abu Dhabi dan Dubai

Kompas.com - 23/09/2008, 08:27 WIB

DALAM bulan puasa ini, saya berkesempatan berkunjung ke Abu Dhabi dan Dubai. Seperti Anda ketahui, mereka adalah dua dari tujuh emirat yang bergabung dalam Persatuan Emirat Arab (United Arab Emirates/UAE). PEA beribu kota di Abu Dhabi, sebagai emirat yang paling besar dalam arti luasan wilayah, dan juga terkaya karena cadangan minyak yang kabarnya baru akan habis sekitar tahun 2100 nanti.

Sesaat sebelum mendarat, pramugari Etihad Airways mengingatkan semua penumpang bahwa selama bulan Ramadhan siapa pun dilarang makan dan minum di tempat umum sebelum saat iftaar (buka puasa). Di tempat-tempat tertentu di hotel berbintang yang membuka fasilitas untuk makan siang bagi non-Islam, juga terpampang pemberitahuan bahwa minuman beralkohol tidak disajikan antara waktu souhour dan iftaar.

Suasana Ramadhan memang sangat terasa di Abu Dhabi. Siang hari tidak banyak kegiatan. Banyak toko dan souk (pasar) tutup. Tidak satu pun tempat makan dan minum yang tampak terbuka. Bahkan museum pun ditutup di pagi hari. Semua jawaban adalah sama: we open after iftaar.

Pemandangan ini sangat berbeda dengan suasana Ramadhan ketika tahun lalu saya berkunjung ke Turki. Padahal, sebenarnya jumlah penduduk Muslim di Turki jauh lebih besar dibanding UAE. Di Turki, 95 persen penduduknya beragama Islam. Tetapi, Turki memang sangat sekuler. Pada bulan Ramadhan, hanya sedikit penduduk Turki yang menjalani ibadah puasa. Warung dan restoran tetap buka seperti biasa. Business as usual!

Di UAE, suasana Ramadhan sangat terasa. Padahal, sebetulnya jumlah penduduk Muslim dan non-Muslim mungkin seimbang besarnya. Pasalnya, dari total penduduk UAE yang empat juta, hanya satu juta penduduk lokal. Sisanya adalah kaum pendatang dari India, Pakistan, Iran, Filipina, China, dan lain-lain. Warga Indonesia saja jumlahnya sekitar 75.000 orang di UAE.

Tempat-tempat dengan suasana internasional, seperti bandara dan hotel berbintang, selalu membangun tenda Ramadhan bagi yang menunaikan ibadah suci. Yang dimaksud tenda Ramadhan adalah memang tenda, seperti tenda kaum Bedouin, dengan hamparan permadani dan bantalan-bantalan tersebar. Mereka yang berpuasa dapat memanfaatkan tenda ini untuk beristirahat. Banyak yang tidur pulas di tenda-tenda yang disediakan ini.

Di berbagai tempat umum, seperti lobi hotel, sering tampak nampan penuh kurma. Di sampingnya, satu teko besar berisi gahwa (kopi bumbu khas Arab) dan cangkir-cangkir kecil. Semua itu disediakan cuma-cuma untuk siapa saja yang memerlukan.

Bila Abu Dhabi adalah ibu kota pemerintahan, Dubai adalah megapolitan yang lebih besar dan merupakan pusat bisnis UAE. Mungkin analoginya sama dengan Washington DC (pusat pemerintahan) dan New York City (pusat bisnis). Suasana Ramadhan di Dubai pun persis sama.

Namun, saya sempat singgah ke International Financial Center yang juga merupakan lokasi Dubai Stock Exchange. Di lantai bawah kompleks gedung ini terdapat food court papan atas untuk melayani kebutuhan para pekerja yang berkantor di IFC. Ternyata, food court ini tetap buka di bulan Ramadhan. Semuanya beroperasi di balik tirai-tirai yang khusus dipasang selama Ramadhan. Menurut kabar, food court di IFC ini ternyata justru lebih ramai di bulan Ramadhan. Soalnya, para wisatawan yang tidak berpuasa akhirnya menemukan tempat yang bagus untuk makan siang.

Pada saat iftaar, tempat-tempat makan penuh dengan pengunjung yang berbuka puasa. Saya langsung teringat suasana buka puasa di lepau-lepau nasi kapau yang berderet di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Sekalipun agak terasa suasana “survival of the fittest” untuk mendapatkan minuman dan makanan sesegera mungkin, tetapi sangat terasa pula suasana keakraban.

Pada suatu saat, saya kebetulan sedang berada di sebuah dapur restoran sesaat setelah iftaar. Seorang juru masak yang sedang menikmati buka puasa dengan segenggam kurma serta-merta memberikan semua kurma itu ke genggaman saya, sementara ia pergi mengambil kurma lagi untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba, terasa ada segumpal besar menyumbat kerongkongan saya. Alangkah indahnya persaudaraan!

Di Abu Dhabi, saya berkunjung ke Sheikh Zayed Grand Mosque (Masjid Agung Syekh Said) di Abu Dhabi. Kunjungan ini sangat bermakna bagi saya, setidaknya karena saya merasa menjadi saksi dari sebuah sejarah yang sedang ditulis (history in the making). Masjid Agung ini baru selesai 90 persen. Diharapkan tahun 2009 akan selesai dan diresmikan.

Tidak dapat disangkal lagi, Masjid Agung Syekh Said ini adalah masjid terbesar dan terindah di dunia. Tetapi, demi penghormatan kepada Masjidil Haram di Tanah Suci Mekkah, bangunan Masjid Agung ini sengaja dibuat sedikit lebih kecil ukurannya. Tetapi, hamparannya sangat luas, dengan taman berumput hijau yang kini tengah diselesaikan. Di salah satu sudut halaman terdapat makam Syekh Said yang tidak boleh dipotret.

Tiga kubah utama masjid ini bentuknya agak mirip Sacre Coeur di Paris. Setidaknya, kesan itulah yang saya tangkap begitu melihatnya. Sayangnya, Abu Dhabi sedang musim debu saat itu sehingga permukaan kubah dari marmer putih itu tertutup debu yang kemerahan. Memotret dari jarak agak jauh pun tidak mampu menampilkan keindahan Masjid Agung ini karena ter-filter oleh debu yang cukup tebal.

Masjid Agung ini benar-benar internasional dalam berbagai aspek bangunannya. Beberapa arsitek dari berbagai bangsa mendesain eksterior maupun interior bangunan megah ini. Bahan bangunan, kontraktor, dan buruh bangunan pun diimpor dari berbagai tempat terbaik di dunia. Mutu pengerjaannya diselesaikan dengan kualitas tinggi. UAE memang dikenal dengan standar kendali mutu yang sangat tinggi.

Pualam putih yang banyak digunakan di bangunan masjid ini diimpor dari Carrara di Italia. Ribuan tiang-tiangnya dihiasi dengan inlay marmer warna-warni dengan desain indah. Puluhan ribu meter persegi serambi masjid diselesaikan dengan mosaik marmer yang dibuat di China. Desainnya modern, namun sangat bernuansa Islami.

Kalau dari eksteriornya sudah menggetarkan, tunggu sampai Anda masuk ke bagian dalam. Di bawah cuaca panas yang menyengat, seluruh ruangan dan serambi masjid terasa sejuk karena pendingin udara yang bekerja sangat bagus. Semakin ke dalam, warna-warni semakin menghilang, diganti dengan nuansa putih dan abu-abu yang anggun.

Sebetulnya, pintu besar ke bangsal utama Masjid Agung ini baru dibuka setelah iftaar. Untungnya, permohonan saya yang mengiba kepada petugas keamanan di situ ternyata dikabulkan. Pintu dorong yang besar itu didorong oleh dua orang petugas.
Ketika pintu-pintu itu perlahan terbuka, bulu kuduk saya meremang. Lutut saya goyah. Teman yang bersama saya tidak kuasa menahan pekikannya. Allahu akbar!

Di depan sana terbentang panorama dengan keindahan yang sungguh Illahiah! Sebuah kandelabra kristal superbesar tergantung dari langit-langit yang tinggi. Bentuknya sangat indah. Ada bola-bola kristal hijau dan merah berkelap-kelip. Di bawahnya, ukiran emas berdesain unik berpendar-pendar. Kandelabra buatan Jerman seharga Rp 100 miliar itu memang pantas menghiasi masjid seindah dan seanggun ini.

Di lantai, karpet Iran tanpa sambungan seluas 5.000 meter persegi terhampar cantik. Ada 50 jenis desain terajut di sana. Karpet wol ini juga merupakan karya luar biasa karena diselesaikan oleh 200 perempuan perajin karpet dari Iran selama 12 bulan.

Sekalipun hanya beberapa menit, pemandangan itu terekam sangat kuat dalam memori saya. Mungkin sampai ajal menjemput nanti panorama memukau itu akan tetap tercetak jelas dalam benak saya. Apa pun agama Anda, bila berkesempatan, jenguklah tempat ini. Di sinilah kita semua mendapat bukti, Tuhan menciptakan manusia-manusia khusus dengan derajat kesenian tinggi yang mampu menerjemahkan keagungan Tuhan dalam bentuk karya seni.

Ramadhan kareem, Saudaraku. Selamat berpuasa!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau