Disperindag Tak Temukan Susu China di Batam

Kompas.com - 24/09/2008, 17:23 WIB

BATAM, RABU- Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam tidak menemukan susu asal China yang beredar di Batam, meski telah dilakukan inspeksi mendadak di beberapa lokasi, Rabu (24/9).

"Kami tidak menemukan 26 merek yang diumumkan berbahaya di media massa dalam sidak di kota ini," kata Kepala Seksi Pengawasan Tata Niaga dan Mutu Barang Disperindag Batam Megawati Napitupulu di Batam.

Meski begitu, Disperindag terus melakukan sidak. "Besok kami ke pinggir, ke kawasan Batu Aji," katanya. 

Sementara itu, Kepala Disperindag Kota Batam Ahmad Hijazi mengatakan Batam rawan peredaran susu asal China dan produk makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya lain, karena Batam tidak memiliki Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Ia mengatakan selama ini yang melakukan pengawasan produk makanan maupun minuman di Batam adalah Disperindag. Padahal, menurut dia, dinas yang dipimpinnya itu tidak profesional melakukan pengawasan tersebut. "Harus yang mengerti kimia. Kami tidak punya orang yang ahli itu," katanya.

Selain tidak ada BPOM, Batam rawan peredaran produk makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya, karena banyak produk impor beredar di kota tetangga Singapura ini. 

Seperti diberitakan, Kepala BPOM telah memerintahkan penarikan produk susu dari China yang beredar di pasaran dalam negeri di Indonesia. Tindakan itu dilakukan untuk melindungi masyarakat dari kemungkinan mengonsumsi produk susu asal China, setelah ditemukannya susu formula terkontaminasi melamine yaitu bahan kimia untuk membuat plastik di China beberapa waktu lalu yang mengakibatkan ribuan bayi sakit, dan beberapa di antaranya meninggal dunia.

Jenis dan merek produk makanan maupun minuman yang harus diamankan antara lain yoghurt merek Jinwei Yoguoo (susu fermentasi rasa aneka buah, rasa buah dan rasa netral/plain), susu full cream merek Guozhen, Indo Eskrim Meiji Gold Monas (rasa coklat dan rasa vanila), Oreo (stik wafer, cocholate sandwich cookie), kembang gula coklat susu M&Ms, dan Snickers (biskuit nuget lapis coklat).

Ada pula makanan serta minuman merek Yili yakni Yili Bean Club Matcha Red Bean Ice Bar, Yili Red Bean Ice Bar, Yili Super Bean Chestnut Ice Bar, Yili Prestige, Yili High Calcium Low Fat Milk Baverage, Yili Choice Dairy Frozen Yogurt Bar With Real Peach and Pinepple Flavoured dan Yili High Calcium Milk Baverage.

Produk makanan dan minuman yang mengandung susu lainnya yang juga harus diamankan adalah Chocliz Dark Chocolate, Dutch Lady Strawbery Flavoured Milk (ekpor China, Hongkong dan Singapura), Natural Choice Yoghurt Flavoured Ice Bar With Real Fruit, Nestle Dairy Farm UHT Pure Milk (katering), kembang gula rasa coklat Dove Choc dan kembang gula White Rabbit Creamy Candy.

Banyak di Tanjungpinang

Dari Tanjungpinang dilaporkan, Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau Yudi Carsana menyatakan, susu asal China banyak beredar di Tanjungpinang (ibukota Provinsi Kepri) dengan kualitas yang diragukan.

"Produk susu asal China yang beredar di toko-toko dan swalayan Tanjungpinang, Bintan, dan Batam lepas kontrol," kata politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

Susu yang diimpor dari China masuk ke wilayah Kepri tidak memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). "Susu itu masuk bersama produk makanan lainnya," katanya.

Menurut dia, peredaran produk makanan yang tidak memiliki label halal dan izin dari BPOM telah berlangsung lama. Produk makanan asal China cukup diminati masyarakat Kepri, karena memiliki kemasan yang lebih baik dan harga yang lebih murah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau