YOGYAKARTA, RABU - Beberapa warga mendesak supaya Pemerintah Kota Yogyakarta dan pemerintah kabupaten serius memerhatikan parkir selama liburan Lebaran. Harus ada petugas di titik-titik rawan kecurangan parkir, dan petugas tersebut mesti aktif memantau.
"Kalau pada hari-hari biasa saja parkir di Yogyakarta banyak kecurangan, apalagi saat Lebaran. Malioboro pasti akan kacau," ujar Angelucia Yosefin (25), warga Condong Catur, Kamis (24/9).
Menurutnya, kalau mau serius, Pemkot Yogyakarta dan Pemkab se-DIY bisa menempatkan petugas (bukan petugas parkir) di titik-titik rawan seper ti Malioboro, Jalan Solo, Jalan Mataram, bahkan hingga area Taman Pintar.
"Namun petugasnya harus aktif memantau. Kalau pasif, ya akan sama saja. Masa Pemkot tidak risih dengan urusan parkir. Itu kan masalah di depan mata dan semua warga Yogya sudah jengkel, tapi enggak pernah ada solusi," ucapnya.
Moko (27) karyawan swasta, Minggu lalu harus membayar Rp 2.000 untuk parkir di depan Gedung DPRD DIY. Biasanya ia hanya membayar Rp 1.000, dan itu pun karcis nya tertera Rp 500. Pada akhir pekan, pengunjung menjadi mangsa empuk juru parkir Malioboro. Juru parkir menetapkan tarif Rp 1.500, atau lebih mahal Rp 500 ketimbang hari-hari biasa.
Namun, menurut seorang juru parkir yang meminta namanya tidak disebut, para juru parkir sebenarnya berada dalam posisi sulit. "Preman di Malioboro menekan kami. Mereka meminta jatah setoran yang lebih banyak. Kami serba susah karena di sisi lain, hanya inilah lapangan pekerjaan kami. Tolong itu dipahami pula oleh Pemkot. Kalau boleh memilih, mendingan jukir (juru parkir) digaji bulanan oleh Pemkot, dan kami lepas dari urusan dengan preman," ujar juru parkir tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang