Ingat Lebaran, Ingat Sarung...

Kompas.com - 25/09/2008, 06:34 WIB

SEBAGIAN masyarakat di Tanah Air masih beranggapan Lebaran identik dengan sarung baru untuk shalat Id. Tanpa sarung baru, Idul Fitri terasa kurang sah. Budaya yang masih berurat akar ini membuat permintaan kain sarung selalu meningkat selama Ramadhan.

Salah satu sentra industri sarung yang kebanjiran permintaan adalah pusat perajin sarung tenun ikat di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Sejak satu bulan sebelum Ramadhan, geliat aktivitas perajin mulai meningkat.

Puluhan perajin yang sebelumnya dalam kondisi mati suri karena kalah bersaing dengan produk sarung pabrikan mulai mendapat angin segar. Datangnya pesanan sarung tenun memberi gairah mereka untuk bangkit kembali.

Rangkaian panjang rantai produksi pun berputar kembali. Dari buruh pemintal benang, pewarna kain, penenun, hingga pedagang sarung berlomba mengais rezeki di ladang yang mulai basah. ”Asalkan tidak malas bekerja pasti dapat uang,” kata Misriatun (76), pemintal benang.

Perajin sarung tenun ikat merek Medali Emas, Siti Rukayyah (36), menambahkan, rata-rata pesanan sarung tenun ikat naik 50-70 persen. ”Berapa pun produksi kami selalu habis diborong pembeli sehingga tidak ada satu pun barang yang tersisa,” katanya.

Selama puasa, wanita yang mempekerjakan 25 karyawan ini mampu memproduksi 15 sarung tenun per hari, mulai dari yang berbahan benang biasa sampai benang sutra. Padahal, pada hari-hari biasa produksinya maksimal hanya 10 potong per hari, itu pun sulit laku.

Laris manis

Menurut istri Munawar ini, permintaan sarung pada Lebaran tahun ini naik dua kali lipat ketimbang tahun lalu. ”Mungkin juga pengaruh dari tren mode fashion yang saat ini sedang gencar-gencarnya mengangkat pakaian tradisional, seperti batik sebagai ikon,” kata Rukayyah.

Sejak sebulan sebelum puasa, ia telah menambah lima alat tenun bukan mesin (ATBM). Namun, hal itu tidak banyak membantu meningkatkan stok. Puluhan pembeli yang biasanya puas dengan berkunjung di tokonya kini berbondong-bondong melihat stok barang ke rumah produksi.

Padahal, bicara soal harga, sarung tenun lebih mahal dibandingkan sarung pabrikan. Harga saat ini pun sudah naik daripada bulan lalu akibat tingginya harga benang impor, menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak. Sepotong sarung tenun berbahan benang bukan sutra dijual Rp 110.000. Adapun harga sarung sutra bisa mencapai Rp 500.000, bahkan Rp 2,5 juta.

Dibandingkan sebelum puasa, harga sarung sudah naik 10-15 persen per potong. Dulu, untuk memiliki sepotong sarung tenun cukup merogoh Rp 100.000. Permintaan tak hanya datang dari pasar lokal, seperti Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta, tetapi juga dari mancanegara, seperti ke Arab Saudi meski masih melalui perantara di Bali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau