SEBAGIAN masyarakat di Tanah Air masih beranggapan Lebaran identik dengan sarung baru untuk shalat Id. Tanpa sarung baru, Idul Fitri terasa kurang sah. Budaya yang masih berurat akar ini membuat permintaan kain sarung selalu meningkat selama Ramadhan.
Salah satu sentra industri sarung yang kebanjiran permintaan adalah pusat perajin sarung tenun ikat di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Sejak satu bulan sebelum Ramadhan, geliat aktivitas perajin mulai meningkat.
Puluhan perajin yang sebelumnya dalam kondisi mati suri karena kalah bersaing dengan produk sarung pabrikan mulai mendapat angin segar. Datangnya pesanan sarung tenun memberi gairah mereka untuk bangkit kembali.
Rangkaian panjang rantai produksi pun berputar kembali. Dari buruh pemintal benang, pewarna kain, penenun, hingga pedagang sarung berlomba mengais rezeki di ladang yang mulai basah. ”Asalkan tidak malas bekerja pasti dapat uang,” kata Misriatun (76), pemintal benang.
Perajin sarung tenun ikat merek Medali Emas, Siti Rukayyah (36), menambahkan, rata-rata pesanan sarung tenun ikat naik 50-70 persen. ”Berapa pun produksi kami selalu habis diborong pembeli sehingga tidak ada satu pun barang yang tersisa,” katanya.
Selama puasa, wanita yang mempekerjakan 25 karyawan ini mampu memproduksi 15 sarung tenun per hari, mulai dari yang berbahan benang biasa sampai benang sutra. Padahal, pada hari-hari biasa produksinya maksimal hanya 10 potong per hari, itu pun sulit laku.
Laris manis
Menurut istri Munawar ini, permintaan sarung pada Lebaran tahun ini naik dua kali lipat ketimbang tahun lalu. ”Mungkin juga pengaruh dari tren mode fashion yang saat ini sedang gencar-gencarnya mengangkat pakaian tradisional, seperti batik sebagai ikon,” kata Rukayyah.
Sejak sebulan sebelum puasa, ia telah menambah lima alat tenun bukan mesin (ATBM). Namun, hal itu tidak banyak membantu meningkatkan stok. Puluhan pembeli yang biasanya puas dengan berkunjung di tokonya kini berbondong-bondong melihat stok barang ke rumah produksi.
Padahal, bicara soal harga, sarung tenun lebih mahal dibandingkan sarung pabrikan. Harga saat ini pun sudah naik daripada bulan lalu akibat tingginya harga benang impor, menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak. Sepotong sarung tenun berbahan benang bukan sutra dijual Rp 110.000. Adapun harga sarung sutra bisa mencapai Rp 500.000, bahkan Rp 2,5 juta.
Dibandingkan sebelum puasa, harga sarung sudah naik 10-15 persen per potong. Dulu, untuk memiliki sepotong sarung tenun cukup merogoh Rp 100.000. Permintaan tak hanya datang dari pasar lokal, seperti Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta, tetapi juga dari mancanegara, seperti ke Arab Saudi meski masih melalui perantara di Bali.