Perlambat Laju KA di Kawasan Lumpur

Kompas.com - 25/09/2008, 21:01 WIB

SIDOARJO, KAMIS - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daops VIII Surabaya mengimbau para masinis memperlambat laju gerbong maksimal 10 kilometer/jam saat melintas di sekitar tanggul lumpur Lapindo Porong Sidoarjo, karena kondisi tanah di kawasan labil dan rawan terjadi pergeseran.

Humas KAI Daops VIII Surabaya, Sugeng Priyono di Sidoarjo, Kamis (25/9) mengatakan, imbauan ini untuk keselamatan bersama, karena jika melintas dengan kecepatan tinggi, dikhawatirkan anjlok atau bergeser, terutama saat melintas di atas tanah yang kondisinya sangat lunak.

"Imbauan ini untuk mengurangi kecepatan, bukan karena rel KA yang tidak layak pakai, melainkan kondisi tanah yang labil. Kalau kondisi rel sendiri sangat baik, tidak ada yang bengkok, hanya tanahnya yang menjadi masalah," katanya.

Sugeng menjelaskan, di kawasan semburan lumpur ada sekitar 800 meter lintasan rel yang berada di atas tanah labil, sehingga masinis harus mengurangi kecepatan sampai maksimal 10 km/jam.

Sugeng juga mengatakan, pihak KAI merencanakan meninggikan rel tersebut setelah Jalan Raya Porong ditinggikan 80 centimeter. Sedangkan, ketinggian rel nanti sekitar satu meter. "Jika tidak ditinggikan, rel akan tergenang, karena air dari jalan mengalir ke kawasan rel," katanya.

Sebelumnya rel tersebut sudah mengalami peninggian secara  bertahap. Sejak awal sampai sekarang total peninggian mencapai 1,6 meter. "Saat ini sedang diusulkan rencanan peninggian untuk mengimbangi ketinggian Jalan Raya Porong," katanya.

Pantauan di lapangan, di lintasan Jalan Raya Porong truk dan trailer mulai memenuhi jalur tersebut, sehingga menimbulkan kemacetan  memanjang.

Kasat Lantas Polres Sidoarjo, AKP Andi Yudianto ketika dikonfirmasi terpisah mengatakan, ada kemungkinan  kepadatan disebabkan truk menghindari penghentian  menjelang hari raya.

Gelar pasukan

Sementara itu, Pangdam V/Brawijaya Mayjen Bambang Suranto telah membuka gelar kesiapan Satuan Tugas Karya Bhakti Kodam V/Brawijaya di wilayah semburan lumpur Lapindo.

Gelar pasukan tersebut dilakukan untuk mengetahui kesiapan pasukan yang telah lama bertugas di lokasi lumpur Lapindo sejak awal terjadinya bencana tersebut sekaligus penambahan pasukan hingga dua kali lipat.

Dalam gelar pasukan tersebut, dilakukan latihan uji protap penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi yang telah direvisi sesuai dengan perkembangan yang terjadi.

Sasaran karya bakti antara lain, pembersihan dan pengecatan rumah ibadah, sekolah, dan pembersihan lingkungan, khususnya dalam mengantisipasi datangnya Hari Raya Idul Fitri dan musim hujan. "Harapannya agar datangnya musim hujan tidak akan menambah permasalahan baru di seputar lokasi bencana lumpur Lapindo. Kami juga telah menyiapkan beberapa kapal karet," kata Bambang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau