Berbagai cara dilakukan para ibu rumah tangga supaya PRT mereka tetap kembali usai mudik Lebaran. Sebagian memberi kenyamanan dengan menyediakan tiket pulang-pergi. Tapi ada juga yang sengaja menyimpan sebagian gaji si mbak supaya mereka tetap kembali bekerja.
Tiap kali Lebaran menjelang, Kustiah Santoso (42), memilih memberi uang Tunjangan Hari Raya (THR) dua kali lipat gaji bulanan sebesar Rp 800.000 yang biasa ia berikan pada pembantunya setiap bulan. Selain itu, wanita yang biasa disapa Ibu Iah ini memberikan ongkos tiket bus pulang-pergi untuk mudik lebaran. "Mereka, kan, pulang kampung setahun sekali. Jadi, wajar saya beri kenyamanan. Lagipula, dia sudah tiga tahun kerja sama saya," kata ibu beranak dua itu singkat.
Iah menambahkan, dengan memberi kenyamanan pada pembantu saat mudik lebaran, pembantu dengan sendirinya tahu dan dapat menilai, betapa sang majikan amat menyayangi dan tetap membutuhkan dirinya. "Lagipula, itu enggak memberatkan. Cuma setahun sekali, kok, " jelas Iah yang memiliki PRT asal Pacitan, Jatim, bernama Atun.
Iah juga membekali pembantunya mudik dengan oleh-oleh sembako dan berbagai kue kering. "Itu sebagai buah tangan untuk orangtua Atun. Selain sudah kenal dekat, saya ingin tetap menjaga tali silaturahmi," cerita Iah.
Kebijakan "menyandera" gaji PRT agar kembali lagi, dirasa tidak terlalu penting bagi Iah. "Saya percaya Atun pasti kembali, jadi tidak perlulah menahan gajinya segala. Saya juga sudah kenal keluarganya." Iah tidak mengingkari, selama Atun mudik, ia cukup kerepotan. "Tapi saya mulai membiasakan diri. Semuanya saya yang urus sendiri," lanjut Iah yang punya pengalaman ditinggal pulang kampung pembantunya selama tiga tahun berturut-turut ini.
Untuk mengganti tugas Atun selama lebaran, Iah masih memiliki tukang cuci pakaian yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. "Kalau masak, biasanya memang saya kerjakan sendiri."
Lebih Aman
Jika Kustiah memberikan kenyamanan dengan memberikan fasilitas ketika mudik hingga oleh-oleh, lain halnya dengan Irma Sipasulta. Ibu tiga anak ini tidak sepenuhnya memberi keleluasaan bagi kedua pembantunya ketika mudik Lebaran.
Selain memberikan uang THR satu kali lipat gaji sebesar Rp 350 ribu dan ongkos pulang kampung, wanita kelahiran Ambon 37 tahun ini merasa perlu menahan gaji kedua pembantunya yang berbeda kampung halaman. "Saya memang memberi THR dan ongkos pulang, tapi saya menahan gaji mereka bulan ini supaya mereka masih memiliki tabungan. Tapi itu atas permintaan mereka sendiri, lho. Biasanya, kan, kalau habis pulang kampung, uang mereka habis," paparnya.
Irma yang menghadiahi sejumlah pakain batik untuk keluarga pembantunya, Santi (17) dan Erni (19), bertutur, oleh-oleh yang sudah disiapkan itu, dibeli sesuai keinginan Santi dan Erni. "Mereka minta agar saya saja yang membelikan pakaian dan oleh-oleh untuk saudara mereka di kampung. Mereka tinggal bilang mau model baju atau oleh-oleh seperti apa, nanti saya yang carikan."
Bagi wanita yang tinggal di Bekasi Timur ini, pilihan kedua pembantunya untuk berhemat dan menyimpan gaji mereka selama bekerja tiga tahun terakhir ini, merupakan hal yang amat baik. "Saya justru bangga dengan pemikiran mereka yang lebih memilih menyimpan uangnya (gaji) di saya ketimbang dipegang sendiri. Masalahnya, kalau pegang sendiri, kan, bisa habis begitu saja."
Meski begitu, ia tetap memberi kebebasan pada dua pembantunya. "Kalau mereka pingin jajan sesuatu, tetap saya kasih. Nanti bonnya saya tunjukkan, kemudian saya potong dari gaji mereka."
Keterbukaan ini pun dirasa positif oleh Santi dan Erni. Santi mengaku, dengan menyimpan gaji pada majikan, ia merasa lebih aman dan dapat menikmati hasilnya ketika mudik Lebaran tiba.
"Saya lebih suka kalau simpan (gaji) di Ibu. Lebih aman, jadi enggak dikutak-kutik sembarangan. Nanti, pas Lebaran, jadi bisa bawa uang untuk orangtua di kampung," celoteh Sinta yang mengaku baru tahun ini akan berlebaran di Lampung Tengah setelah tiga tahun tidak pulang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang