Calo Gentayangan di F1 Singapura

Kompas.com - 26/09/2008, 23:39 WIB

Laporan Wartawan tribun Batam, Sri Murni Dari  F1 Singapura (1)

JARUM jam menunjukan pukul 14.05 waktu Singapura, ketika suara seorang wanita terdengar melalui pengeras suara di dalam kereta mesin atau MRT memberitahukan bahwa tempat pemberhentian selanjutnya adalah City Hall.

Berselang beberapa detik dari hilangnya suara itu, para penumpang pun mulai berdiri dari tempat duduknya dan menuju pintu. Suara wanita itu pun muncul lagi dengan pemberitahuan yang berbeda bahwa kereta telah sampai di stasion City Hall dan penumpang agar berhati-hati saat keluar dari kereta.

City Hall merupakan salah satu tempat di Singapura yang banyak terdapat pusat-pusat perbelanjaan. City Hall juga menjadi bagian dari arena F1. Ada tiga pintu masuk F1 yang ada di City Hall yakni Gate 3, 6, 7, dan 8. Sementara empat gate lainnya dari 8 gate yang disiapkan berada di daerah Lavender dan Kallang (gate 1A dan 1), Bugis (gate 2), Raffles Place (gate 5,6), Outram Park dan Clarke Quay (gate 4), Lavender, Bugis,

Tidak lama kaki melangkah dan menaiki satu tangga eskalator dari Stasiun City Hall, Tribun pun sampai di pintu masuk Raffles City Shopping Centre. Tepat di sebelah bangunan mal yang bergabung dengan hotel tersebut, terdapat pintu masuk (gate) tiga arena F1.

Sebagai petanda pintu masuk, didirikan tenda besar dengan lebar kurang lebih 50 meter dan di atas tenda tersebut jelas tertulis Gate 3. Di bawah tenda, terdapat 20-an tempat pemeriksaan pengunjung. Puluhan petugas keamanan dan panitia pun tampak sibuk memeriksa satu per satu pengunjung dengan live detector.

Petugas yang memeriksa pengunjung seluruhnya berseragam kaos coklat. Mereka didampingi petugas keamanan yang berseragam biru dongker. Arena F1 dibatasi oleh pagar jeruji besi dan kawat setinggi 3 meter.

Saat wartawan sampai di lokasi, kesibukan petugas tidak hanya terlihat di pintu masuk Gate 3, tetapi juga di konter ticketing yang menjadi tempat penjualan tiket. Meskipun mayoritas pengunjung yang datang sudah memesan dan membeli tiket terlebih dahulu, panitia tetap menyediakan tempat bagi yang ingin membeli tiket on the spot. Harganya memang relatif mahal yakni 998 dolar AS atau sekitar Rp 6,58 dolar Singapura untuk tiga hari. Penjualan tiket di konter resmi semakin mahal ketika senja menjelang hingga malam. Tiket harga 998 dolar ternyata hanya bisa bertahan sampai sekitar pukul 17.00, lewat dari itu harga sudah melonjak menjadi 1380 dolar Singapura atau sekitar Rp 9,10 juta.

Namun, Anda yang tidak mengantongi uang segitu banyak, tidak perlu khawatir karena masih bisa tetap mendapatkan tiket dengan harga yang jauh lebih murah. Caranya belilah tiket melalui calo-calo yang banyak berkeliaran di sekitar pagar luar arena sampai di depan pintu masuk setiap gate.

Harga yang ditawarkan calo sangat menggiurkan yakni 200 dolar atau sekitar 1,3 juta untuk balapan hari pertama, sementara hari kedua dan hari ketiga alias hari terakhir masing-masing seharga 400 dolar Singapura atau sekitar Rp 2,64 juta.

Tiket dijual bebas oleh para calo yang rata-rata adalah orang bule dan orang kulit hitam. Di gate tiga ada sekitar 10 orang calo yang menjual tiket. Hari pertama mereka beroperasi sekitar pukul 16.00 sampai malam. Mereka menjual tiket secara terbuka bahkan di depan konter tiket resmi dan di depan petugas keamanan Singapura.

Saat wartawan Tribun bertanya tentang status tiket yang dijual para calo kepada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga di depan pintu pemeriksaan, ia mengatakan bahwa tiket tersebut tetap bisa digunakan meskipun dijual secara tidak resmi.

Hal senada juga diungkapkan seorang wanita penjual tiket resmi di konter penjualan tiket. "Tiket disini (konter) yang tersisa hanya harga 1380 dolar. Kalau mau beli yang tidak resmi juga bisa,"terangnya pada Tribun.

Adanya aksi penjualan tiket oleh para calo menyebabkan pengunjung yang sudah membeli tiket jauh-jauh hari sebelum even merasa kesal. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Kepri John Kennedy misalnya, mengaku kesal karena harus membeli tiga hari sekaligus dengan harga lebih mahal, yakni 1.000 dolar. Padahal pada prakteknya tiket bisa didapat pada hari pertandingan dan lebih murah serta dibeli per hari.

"Iya ni pada banyak yang sudah beli duluan. Soalnya pada waktu dilaunching katanya harus beli tiga hari sekaligus dan harganya 1000-an dolar. Tahunya ada yang jual lebih murah dan per hari,"ujarnya.

Pakai Angkutan Umum

Kesibukan dan keramaian juga terlihat di luar pintu masuk dan di luar pagar arena. Masyarakat Singapura dan warga asing yang tidak memiliki tiket, terlihat antusias untuk tetap menyaksikan gelaran F1 dari luar arena. Meskipun mereka harus rela hanya melihat sekilas bagian atas mobil-mobil F1 yang melintas di lintasan Gate 3. Warga yang menonton di luar pagar pun harus rela berjinjit-jinjit karena pemandangan mereka terhalang pagar jeruji.

Meskipun demikian, tidak sedikit warga yang membawa balita mereka menonton di luar arena. Mereka menggendong balitanya di atas punggung agar si anak juga bisa menyaksikan balapan tersebut. Dari luar arena, tidak sedikit warga yang mencoba mengabadikan balapan, baik melalui kamera foto maupun kamera video.

Sekitar pukul 15.30 WIB, sesi latihan dimulai oleh tim BMW Pacific. Begitu terdengar raungan dari mobil-mobil F1, berbondong-bondong warga mendekati pagar arena F1. Sekeliling pagar dijaga ketat oleh petugas keamanan Singapura yang menggunakan seragam biru donker. Para petugas tetap memberikan kesempatan warga mendekati pagar dan menyaksikan sesi latihan.

Meskipun di sepanjang pagar itu banyak tembok-tembok setinggi 1 meter, namun tidak satu pun mengunjung berkesempatan berdiri di atas tembok agar bisa melihat lebih jelas. Sebab, petugas keamanan senantiasa memperhatikan gerak gerik warga dan akan langsung menegur jika ada warga yang berdiri di atas tembok.

Ribuan orang tampak memadati areal di luar pagar lintasan F1. Tidak hanya warga Singapura, tetapi wisatawan asing dari berbagai negara pun berdiri dan berpanasan di luar pagar lintasan. Semakin petang pengunjung semakin padat sehingga jalan yang seharusnya digunakan untuk keluar masuk pengunjung dari gate 3 pun penuh sesak.

Petugas keamanan tampak agak kewalahan mengatur massa yang tetap nekat berdiri di depan pagar arena padahal sudah berulang kali diusir oleh petugas. Mr Nad, seorang warga Singapura yang bekerja di Pasir Gudang sengaja datang ke City Hall untuk menyaksikan balapan F1 meskipun hanya dari luar pagar arena. "Saya hari ini (kemarin, red) sengaja cuti agar bisa menonton. Tiket sangat mahal jadi tidak bisa beli,"ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Mr Jile, wisatawan asal Amerika Serikat. "Ke Singapura jalan-jalan. Saya cuti dan sudah keliling Asia. Saya nonton F1 dari luar saja karena tidak ada lagi tiket yang murah," kata Jile yang berlibur bersama istri dan dua anaknya.

Bagi warga Singapura dan asing yang hendak menyaksikan balapan, dianjurkan untuk menggunakan transportasi umum dan meninggalkan kendaraan pribadi di rumah masing-masing. Sebab, areal parkir yang disiapkan sangatlah jauh dari pintu masuk dan pagar arena. Jaraknya sekitar 1 km, sehingga yang membawa kendaraan pribadi diwajibkan jalan kaki ke arena balapan.

Sementara jika menggunakan transportasi umum baik MRT, bus, maupun taxi, bisa menghemat energi berjalan kaki, karena lokasi halte, taxi stand, dan stasiun MRT sangatlah dekat dengan arena F1. Bahkan, bisa dikatakan semua (8) pintu masuk berada hanya sekitar 200 meter.

Saat sesi latihan dari tim BMW Pacific, Aston Martin Asia Cup, dan Porsche Carrera Cup Asia selesai sekitar pukul 17.00 waktu Singapura dan dilanjutkan dengan tim-tim lainnya, pengunjung tampak lebih banyak lagi. Tidak hanya berdiri di depan pagar arena tapi juga memadati lapangan kosong di luar pagar arena.

Tempat-tempat makan dan nongkrong di sekitar Raffles City dan pusat perbelanjaan lain yang ada di City Hall juga terlihat dipadati para pengunjung. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu sambil menikmati makanan dan minuman sebelum sesi latihan selanjutnya dimulai. Hari pertama F1 yang acaranya dimulai sekitar pukul 15.00 Waktu Singapura, lebih banyak diisi dengan sesi latihan dari tim-tim yang bertanding. Selain itu juga banyak acara-acara hiburan seperti penampilan DJ kelas dunia, live music R & B, Blues, jazz, dan Soul, serta komedi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau