Harga Elpiji Naik Lagi, Ayam capai Rp35.000 per Kg

Kompas.com - 02/10/2008, 17:59 WIB

 

JAKARTA, KAMIS - Kenaikan elpiji kembali terjadi Selasa (30/9), sehari menjelang Lebaran. Di tingkat pengecer harga bahan bakar gas terutama tabung isi 12 kilogram di Jakarta dan Tangerang ini naik kembali setelah sebelumnya, awal September lalu sudah naik dari Rp 72.000-Rp 75.000 per tabung menjadi Rp 77.000 sampai Rp 82.000. Saat ini, harga elpiji naik menjadi Rp 78.000- Rp 83.000 per tabung.

"Barangnya ada, tetapi peminatnya banyak," kata Alin (47), salah seorang pengecer elpiji di Kelurahan Gagak, Ciledug, Kota Tangerang. Alin mengatakan, dia terpaksa menaikkan lagi harga jual karena agennya di Tanah Abang, Jakarta Pusat juga telah menaikkan harga sebesar Rp 500 per tabung.

"Alasan kenaikan untuk tambahan biaya transportasi," kata Alin yang telah menaikkan harga elpiji dari Rp 77.000 per tabung menjadi Rp 78.000 per tabung.

Kenaikan harga elpiji juga diakui Hera (31), pengecer elpiji di Kelurahan Kwitang, Jakarta Pusat. "Saya sebenarnya malu kepada pembeli, karena dalam sebulan ini harga elpiji naik dua kali," kata Hera yang telah menaikkan harga elpiji dari Rp 80.000 menjadi Rp 82.000 per tabung.

Sementara di Pondok Kacang, Tangerang harga elpiji tabung isi 12 kg naik dari Rp 82.000 per tabung menjadi Rp 83.000 per tabung. "Saya enggak tahu sampai kapan gas (elpiji) akan naik terus. Kalau naik terus, kami enggak tahu mau masak pakai apalagi, minyak tanah enggak ada lagi," kata Ny Novi (29), warga Pondok Kacang.

 

Daging ayam

Kenaikan harga juga terjadi pada daging ayam dan sejumlah jenis sayuran di pasar tradisional. Harga daging ayam di Pasar Lembang, Pondok Aren dan Pasar Ciledug, Kota Tangerang, Kamis (2/10) mencapai Rp 35.000 per kg. Harga itu telah mengalami kenaikan Rp 5.000 dari dua hari sebelumnya, yakni sehari menjelang Lebaran.

Sejumlah jenis sayuran juga naik lagi seperti tomat yang sebelumnya Rp 7.000 - Rp 10.000 per kg naik menjadi Rp 8.000-Rp 11.000 per kg. Begitu juga dengan cabai rawit merah yang naik Rp 3.000 dari Rp 7.000 menjadi Rp 10.000 per kg.

 

Menghilang

Sehari menjelang Lebaran, warga Jakarta dan Tangerang juga kesulitan memperoleh air kemasan dalam galon. Di sejumlah warung dan toko tidak lagi tersedia produk tersebut. Namun, di beberapa warung dan toko yang memiliki stok sangat terbatas menjualnya dengan harga tinggi Rp 12.000 - Rp 14.000 per galon ataui naik dari Rp 10.000 per galon.

Tingginya harga kemasan air meneral ini dikarenakan stok produk itu sangat terbatas. "Tiga hari lalu saya menyetok barang rata-rata 100 galon per hari. Tetapi, hari ini tinggal empat galon yang terisi," kata Lina (27) pemilik warung di Ciledug, Kota Tangerang. Dia mengatakan, menjelang Lebaran dia sengaja menyetok barang dengan jumlah yang banyak. Akan tetapi persediaannya tinggal empat galon saja.

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau