Skunk, Si Busuk yang Jadi Senjata Andalan

Kompas.com - 06/10/2008, 02:47 WIB
Pernahkah Anda mencium bau daging busuk, kaus kaki yang berminggu-minggu tak dicuci, dan got mampet yang dicampur menjadi satu? Sekarang bayangkan bau itu melekat di tubuh Anda dan tidak bisa hilang selama tiga hari sekalipun Anda berulang kali mandi.

Itulah Skunk, ”senjata” baru yang tengah dikembangkan Israel untuk menghalau aksi protes terhadap pembangunan pagar pembatas di sekeliling permukiman Yahudi di Tepi Barat. Cairan superbau itu dicampurkan ke meriam air (water canon) untuk disemprotkan ke kerumunan pemrotes.

Israel kerap dikecam karena sering menggunakan kekerasan secara berlebihan untuk menghadapi pemrotes. Karena itu, Skunk sangat diandalkan untuk meredam gencarnya kecaman itu.

”Ini benar-benar tidak berbahaya. Anda bahkan bisa meminumnya,” kata perwira militer Israel, Letnan Kolonel David Ben Harosh, seperti dikutip BBC, akhir pekan lalu.

Ramuan rahasia

Skunk terinspirasi dari sigung, hewan mamalia yang mengeluarkan gas berbau busuk sebagai alat bela diri. Pemburu hewan berwarna hitam dengan garis putih di punggung itu akan seketika meninggalkan si sigung karena tidak tahan dengan baunya.

Skunk berbentuk cairan berwarna hijau, terbuat dari bahan-bahan organik. Tidak ada bahan kimia ilegal atau bahan- bahan lain yang dilarang. Hanya ada campuran ragi, bubuk pengembang kue, dan beberapa ”ramuan rahasia”.

Harosh memamerkan contoh Skunk dalam botol kepada sejumlah wartawan. Dia memperlakukan Skunk seperti proyek kesayangan, dengan memeluk botol itu dekat sekali ke dadanya. Padahal, orang lain pasti meletakkannya sejauh mungkin dari hidung.

Kepolisian Israel berharap banyak untuk bisa membuat Skunk sebagai produk komersial dan menjualnya kepada badan- badan penegak hukum di luar negeri.

Di kalangan kelompok hak asasi manusia, para juri masih mengevaluasi Skunk. Mereka berkeberatan dengan penggunaan cairan superbau itu jika mengenai orang yang tidak tahu apa-apa, yang kebetulan lewat, dan harus menderita selama berhari-hari setelahnya.

Di samping itu, penggunaan Skunk tidak serta-merta menghilangkan penggunaan senjata konvensional yang terus menewaskan dan mencederai penduduk di Tepi Barat.

Kendati demikian, sedahsyat apa pun bau busuknya, disemprot Skunk mungkin jauh lebih mendingan daripada diterjang peluru karet atau disemprot gas air mata dan bubuk merica.(bbc/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau