Nelayan Anggap Miras Jamu Pegal Linu

Kompas.com - 07/10/2008, 20:56 WIB

CIREBON, SELASA - Sejumlah nelayan di Kabupaten Indramayu sudah meyakini menenggak minuman keras atau miras sebagai obat pegal linu, setelah selama seminggu lebih bekerja keras mencari ikan di tengah laut sehingga kebiasaan itu sulit dihilangkan.
     
Sejumlah nelayan yang menjadi korban miras beracun dan dirawat di Rumah Sakit MA Sentot Patrol, Kabupaten Indramayu, mengatakan hal itu, Selasa.
     
Menurut Tanto (23), nelayan dari  Desa Eretan Kulon, dirinya sudah lima tahun secara rutin minum miras usai mencari ikan di lautan lepas antara 7 sampai 10 hari. "Sudah lima tahun saya menjadi ABK kapal besar, dan begitu mendarat maka malam harinya langsung minum miras yang biasanya dicampur minuman anggur. Kalau tidak minum rasa pegal di badan tidak akan hilang dan bisa tidak melaut lagi selama satu minggu," katanya.
     
Ia mengatakan, setelah minum biasanya para ABK langsung tertidur pulas dan esok harinya bisa kembali segar, setelah itu kembali bekerja untuk mempersiapkan berangkat ke laut pada hari berikutnya.
     
Hal senada juga diungkap Taryono (29), nelayan satu desanya yang juga sudah hampir 10 tahun minum miras setelah bongkar ikan hasil tangkapan di laut. "Kebiasaan itu sulit hilang, minum miras sama saja dengan minum jamu pegal linu karena bisa menghilangkan pegal-pegal selama seminggu di tengah laut," katanya yang masih terbaring lemas bersama Nursanto, adik kandungnya yang juga menjadi korban.
     
Tujuh nelayan yang sampai Selasa masih terbaring di RS MA Sentot itu merupakan bagian kecil dari ratusan nelayan yang mengalami gejala keracunan alkohol atau Intoxicasi setelah pesta miras pada hari Lebaran Idul Fitri.
     
Walaupun mereka mengonsumsi miras dengan merek yang berbeda ternyata efek yang ditimbulkannya sama, sehingga kuat dugaan bahan baku miras itu hampir sama walaupun dikemas dalam merek berbeda.
     
Tanto menceritakan sore hari di Lebaran Idul Fitri itu, ia membeli tiga botol miras merek Mansion  Rp45.000 per botol dan dicampur dengan tiga botol minuman Anggur Kolesom merk Rajawali seharga Rp17.000 per botol.
     
"Kami bertiga lalu minum bersama, tetapi dua kawan saya yaitu Konjol dan Idin, sehari kemudian langsung berangkat melaut dan sampai sekarang belum ada kabarnya lagi," katanya.
     
Taryono mengaku selepas Shalat Idul Fitri, mereka minum bersama enam temannya dengan menenggak campuran Anggur Kolesom merk Nusantara dengan bir hitam dan bir putih, dua terakhir merek Bir Bintang.
     
"Sebelumnya saya sudah beli beberapa botol merk W&N, tetapi kata orang itu beracun sehingga saya ganti dengan anggur merk Nusantara itu. Kenyataanya campuran itu juga buat saya seperti kelelahan, lemas dan sesak nafas," katanya.
     
Namun ada juga nelayan lain, Sobur (47), nelayan Desa Eretan Kulon yang mengaku hanya menenggak anggur Nusantara tanpa campuran lain tetapi nasibnya juga sama dan mendapat perawatan di RS MA Sentot Patrol.
      
Sampai saat ini akibat menenggak miras yang diduga beracun pada hari Lebaran kemarin telah menelan korban meninggal 12 orang, delapan diantaranya merupakan nelayan warga Desa Eretan Wetan yaitu Herman (30), Sapeng (60), Beni (23), Warnadi (36). Heryanto (25), Rusdi (22), Surjana (27) dan Wasmin (25).
     
Korban meninggal lainnya yaitu Abdul Gofur (41), warga  Desa Babakan Jaya, Kecamatan Gabus Wetan,  Turya Alias Subur (50) warga Desa Merkarjati, Sulaeman Warga Desa Haurgeulis, dan Kasman Bin Rustayim (22) Desa Patrol Blok Bunder.  
     
Selain korban meninggal ternyata tercatat 99 orang sempat mendapat perawatan di RS MA Sentot, 65 orang di RS Bhayangkara Losarang dan 26 orang di RSUD Indramayu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau