Polri Kirim Kontingen Garuda Bhayangkara ke Sudan

Kompas.com - 09/10/2008, 19:53 WIB

JAKARTA, KAMIS - Polri mengirimkan 140 anggota polisi untuk menjaga perdamaian di Darfur, Sudan yang kini dilanda konflik dan telah menyebabkan 200 ribu warga sipil tewas dan 2,5 juta lainnya menjadi pengungsi. Satgas Polri yang bernama Kontingan Garuda Bhayangkara itu secara resmi dilepas oleh Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanagara di lapangan Markas Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (9/10).

Mereka akan diberangkatkan ke Darfur dengan pesawat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan akan bertugas selama satu tahun atau hingga Oktober 2009. Satgas ini akan bergabung bersama 19.557 pasukan perdamaian PBB dimana 3.772 diantaranya merupakan anggota polisi.

Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dalam sambutan tertulis yang dibacakan Makbul mengatakan, pengiriman polisi itu merupakan kehormatan bagi bangsa Indonesia dan Polri yang diberikan oleh masyarakat internasional. "Pengiriman polisi sebagai penjaga perdamaian ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh Polri. Ini berarti Polri diakui oleh dunia internasional," katanya.

Menurut Kapolri, Satgas Polri harus mampu menunjukkan performa yang membanggakan dalam mengemban misi perdamaian sebab selama ini pasukan perdamaian dari Indonesia telah mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari negara lain. "Tugas ini memang berat dan tidak mudah namun mulia karena daerah konflik ini telah menelan korban 200 ribu jiwa sedangkan 2,5 juta lainnya mengungsi," katanya.

Kapolri meminta agar anggota Polri membawa peran sebagai juru damai selain memberikan pelayanan umum dan penegakkan hukum. "Sikap anggota Polri harus profesional dan sesuai dengan aturan yang berlaku di PBB," ujarnya.

Deputi Operasi Kapolri, Irjen Pol Rubani Pranoto mengatakan, polisi yang dikirim telah melalui serangkaian pelatihan kemampuan termasuk bahasa Inggris. "Semua anggota mampu berbahasa Inggris bahkan lima orang mampu berbahasa Arab selain bahasa Inggris," katanya.

Kehadiran polisi dari Indonesia sangat dinantikan oleh Sudan sebab ada ikatan sejarah dan agama antara Indonesia dengan Sudan. "Kesamanan agama Islam antara Sudan dan Indonesia menjadi nilai tambah bagi kita sebab tidak banyak pasukan perdamaian yang beragama Islam," kata Rubani.

Selain itu, nama Presiden pertama Indonesia Soekarno banyak dikenal di Sudan sehingga mempermudah tugas Polri di sana. Direncanakan, pada Desember 2008, Polri juga akan mengirimkan lagi 140 polisi tambahan ke Sudan namun pemberangkatan itu tergantung kepada PBB. "Kita telah menyiapkan personel yang ada," katanya.

Sebagian besar polisi yang berangkat ke Sudan adalah anggota korps Brimob karena medan yang dihadapi adalah konflik. Mereka memiliki kemampuan bidang medis, logistik, penyuluhan, penegakan hukum, mediasi dan kemitraan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau