Bersepeda, Jadikan Gaya Hidup

Kompas.com - 13/10/2008, 20:39 WIB

YOGYAKARTA, SENIN - Masyarakat Yogyakarta diajak menggunakan sepeda ketika ke sekolah maupun ke tempat kerja. Sepeda, yang kian hari kian tergusur oleh motor, harus dinaikkan lagi derajatnya. Bersepeda juga gaya hidup modern yang gaul, perlu, dan ramah lingkungan.

Melalui Sego Segawe yaitu gerakan sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe (sepeda untuk sekolah dan bekerja) yang diluncurkan Senin (13/10) di Alun-Alun Utara, Pemerintah Kota Yogyakarta coba membangkitkan minat warga untuk bersepeda.   

Sepeda harus dihormati di jalanan. Bersepeda tak identik lagi dengan masyarakat ekonomi bawah, ujar Herry Zudianto, Wali Kota Yogyakarta, saat memberi sambutan di depan 5.000-an pelajar dan karyawan Pemkot.

Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X yang juga memberi sambutan , berharap gerakan ini bisa berkembang dan memengaruhi masyarakat agar gemar bersepeda. "Bersepeda membuat tubuh sehat," ujarnya.

Atlet sepeda nasional, Nurhayati mengemukakan, untuk menumbuhkan kecintaan bersepeda atau olah raga apa pun, orang tualah yang memegang peran. " Sejak kecil, anak mestinya diarahkan," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Syamsury mengatakan, pihaknya sedang merancang peraturan wali kota (perwal) perihal pemberian asuransi bagi pelajar bersepeda yang mengalami kecelakaan di jalan. "Rancangan Perwal kami garap secepatnya," ucapnya.

Menyinggung adanya nada pesimis terhadap program ini, Herry mengatakan bahwa perlu keyakinan. "Kita harus yakin. Bersepeda secara serentak dulu," ujarnya.

Irvan Faturahman, siswa SMPN 7 Yogyakarta mengatakan, harus ada fasilitas nyaman bagi pengendara sepeda. Tak ada jalur sepeda. Motor berseliweran kencang dan main klakson. Belum asap bus, kata Irvan yang sepedanya pernah diserempet motor saat menyeberang di zebra cross ini.  

Hendrie Adji Kusworo, Pelopor Komunitas Sepeda Hijau Universitas Gadjah Mada (UGM)-sebuah gera kan bersepeda di lingkungan UGM-mengatakan Sego Segawe butuh dukungan infrastruktur keselamatan dan kenyamanan bagi pengendara sepeda. Misalnya, dibutuhkan banyak lajur khusus sepeda.

Sayangnya, infrastruktur pendukung seperti itu masih memprihatinkan. Saat ini, lajur sepeda yang menghubungkan lima kampus besar yakni UGM, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), U niversitas Islam Indonesia (UII), Universitas S anata Dharma (USD) dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), dianggap kurang berhasil. Sudah sejak tahun 2006 kegiatan itu dirintis. Lajur berupa marka garis putus-putus justru banyak dipakai kendaraan bermotor dan parkir.   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau