Presiden: Waspadai Konflik Abad 21 dan Teruskan Reformasi

Kompas.com - 14/10/2008, 15:24 WIB

Laporan wartawan Kompas Nina Suslio

SURABAYA, SELASA- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan agar TNI mewaspadai kemungkinan konflik abad ke-21 dan menyiapkan langkah antisipasinya. Selain itu, Presiden juga minta agar reformasi internal TNI yang sudah berlangsung 10 tahun dilanjutkan.

Instruksi itu disampaikan Presiden dalam amanat sebagai Inspektur Upacara Hari Ulang Tahun ke-63 TNI. Puncak peringatan hari jadi TNI diselenggarakan di Markas Komando Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, Selasa (14/10).

Presiden didampingi Ny Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ny Mufidah Kalla, serta Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso. "Saya minta TNI terus mengikuti kecenderungan perkembangan dunia dan potensi terjadinya konflik di abad ke-21. Lakukan terus analisis dan kajian ancaman, identifikasikan skenario ancaman, dan siapkan langkah-langkah antisipasi dengan visi yang tepat," kata Presiden.

TNI juga diharapkan memutakhirkan dan mengembangkan strategi pertahanan, rencana kontigensi, dan doktrin. Ini diperlukan karena corak penyelenggaraan peperangan terus berubah dan kemajuan teknologi membuat perang di masa datang semakin kompleks.

TNI juga tetap harus siap menghadapi perang konvensional dan perang asimetris. Untuk itu, kesiagaan militer harus dimantapkan dan dipelihara dengan latihan gabungan intra dan antarangkatan secara berkala.

Instruksi keempat adalah menuntaskan reformasi TNI. Dalam agenda itu, TNI harus menghormati pranata hukum dan demokrasi di tanah air, serta mengawal kehidupan negara yang bertumpu pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam pemenuhan kebutuhan alutsista, Presiden juga menginstruksikan agar mengutamakan produksi dalam negeri melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Dengan meningkatkan riset dan teknologi pertahanan, produk industri pertahanan nasional bisa dikembangkan dan memenuhi keperluan TNI.

Kerjasama pertahanan terutama dengan negara tetangga yang sudah terjalin baik juga harus dipertahankan.

Dalam menghadapi Pemilu 2009, Presiden meminta TNI tetap memegang teguh netralitasnya dan tidak terlibat dalam politik praktis. "Saya tegaskan sekali lagi bahwa loyalitas TNI tegak lurus hanya kepada bangsa dan negara. Sebagai negara demokrasi, pemerintah boleh berganti setiap lima tahun, tetapi loyalitas TNI tidak boleh berubah. Pegang teguh doktrin TNI dan jangan sekali-sekali dinodai. Pegang teguh amanat Panglima Besar Jendral Sudirman bahwa TNI adalah milik nasional dan tidak pernah berubah," tutur Presiden.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau