Tukul Arwana Boyong Manusia Kawat

Kompas.com - 14/10/2008, 21:29 WIB

JAKARTA, SELASA - Noorsyaidah, wanita yang sempat menggegerkan warga Kalimantan Timur bahkan dunia, akibat penyakit aneh yang dideritanya selama 17 tahun, dengan kawat yang tumbuh di bagian perutnya, Selasa (14/10), bertolak ke Jakarta.

Warga Bukit Pelangi, RT 27, Desa Teluk Lingga, Sangatta Utara-Kutai Timur ini, berangkat ke Jakarta atas undangan salah satu stasiun televisi swasta, Trans7 untuk menjadi bintang tamu dalam acara Empat Mata, Rabu (15/10), yang disiarkan secara langsung bersama presenter Tukul Arwana.

"Noorsyaidah memang kami undang untuk menjadi bintang tamu besok malam di Acara Empat Mata. Hari ini tadi beliau (Noorsyaidah) sudah tiba di Jakarta," ujar Anita Wulandari, Marketing Public Relation Departement Head Trans7, didampingi Linda Fitriesti, membenarkan.

Noorsyaidah yang masih tercatat sebagai guru Taman Kanak-Kanak (TK) Al Quran Sangata, Kutim ini dijemput langsung oleh pihak Trans 7 dan berangkat dari Bandara Sepinggan Balikpapan sekitar pukul, 12.40 Wita.

Fenomena penyakit aneh yang diderita Noorsyaidah, di sebagian perut dan dadanya mengeluarkan kawat besi berduri, tak henti-hentinya mengundang perhatian banyak pihak, termasuk Trans 7. Perempuan berusia 40 tahun, Rabu (15/10) malam, akan tampil menjadi bintang tamu dalam acara yang dipandu presenter kocak Tukul Arwana, pada program Empat Mata.

Perempuan yang menderita penyakit selama 17 tahun tersebut berangkat sekitar pukul 11.00 Wita, Selasa (14/10)  langsung dari Sangatta, Kutai Timur (Kutim) dengan menggunakan pesawat carter Cassa milik Avia Star dari Bandara Tanjung Bara, Kutim. Selanjutnya untuk terbang ke Jakarta, Noor yang dikawal ketat seorang polisi berseragam dinas, menggunakan pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 517 pada pukul 12.40 Wita.

Lilis, adik angkat Noor yang senantiasa mendampingi ke mana pun Noor pergi, termasuk keberangkatan Noor ke Jakarta tersebut, saat dikonfirmasi mengungkapkan, Noor akan tampil secara live di acara yang kerap mengundang artis papan atas Indonesia tersebut. "Yang jelas, Bu Noor tampil besok, acaranya malam seperti jadwalnya Empat Mata di Trans7," kata Lilis.

Sayangnya, Lilis tak banyak memberikan komentarnya ketika ditanyakan apakah keberangkatan Noor ke Jakarta, termasuk salah satunya melakukan pengobatan. Lilis hanya mengatakan, tak tahu-menahu soal itu, alasan dia hanya ikut mendampingi Noor.

"Nah kalau pertanyaan itu, saya tidak tahu tanya langsung ke Bu Noor. Yang pastinya itu, menurut yang saya ikuti ini adalah, Bu Noor tampil di acara Empat Mata, itu saja. Ini kami baru saja sampai di Bandara Soekarno Hatta, dan tidak tahu juga kami akan diinapkan dimana oleh mereka-mereka yang membawa kami ini," ujarnya.

Saat Tribun meminta untuk disambungkan langsung ke Noor, Lilis mengaku sedang berada di mobil yang berbeda. Sehingga dia menyarankan untuk menghubungi lagi nanti. Namun sampai berita ini diturunkan, ponsel Lilis sudah tidak aktif.

Sementara itu, menurut sumber Tribun di Samarinda, keberangkatan Noor memang sengaja diundang khusus oleh Trans7. Fenomena penyakit aneh yang diderita oleh warga Bukit Pelangi, RT 27, Desa Teluk Lingga, Sangatta Utara-Kutim itu ditampilkan, karena banyaknya permintaan pemirsa dijadikan bintang tamu di Empat Mata.

"Memang prosedurnya melalui persetujuan Pemkab Kutim, tapi tujuan utamanya adalah memang untuk kepentingan acara Empat Mata di Trans7," kata sumber yang enggan dikorankan namanya itu.

Menurutnya, Noor bersama Lilis diinapkan di Hotel Maharaja, Jalan Mampang, Jakarta Selatan, tidak jauh dari studio Trans 7. Hotel itu adalah yang menjadi langganan TransTV dan Trans7 menginapkan para tamunya, ketika akan ditampilkan dalam sebuah acara di dua televisi swasta tersebut. (aid/sis)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau