Pengerukan Sungai di Jakarta Sangat Terlambat

Kompas.com - 15/10/2008, 03:14 WIB

JAKARTA, RABU - Pengerukan 12 anak sungai di Jakarta sangat terlambat. Memasuki pertengahan Oktober, Dinas Pekerjaan Umum belum menetapkan pelaksana pengerukan kali-kali itu. Padahal, masa berakhirnya tahun anggaran 2008, tinggal dua setengah bulan lagi.

Jika penetapan pemenang lelang baru dilakukan pertengahan Oktober berarti membutuhkan tiga minggu sebelum penandatangan kontrak kerja sama. Setelah proses ini, pelaksanaan proyek pengurukan anak sungai baru bisa dilakukan.

"Pelaksanaan pengerukan anak sungai ini terlambat," kata Sekretaris Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI, Fatih R Shidiq, Selasa (14/10).

Menurut dia, seharusnya pengerukan kali sudah dilakukan sejak bulan Juli ketika musim kemarau. Bukan, menjelang musim hujan.

Ketua Komisi D DPRD DKI Sayogo Hendrosubroto mengatakan, sering terlambatnya pengerukan mengakibatkan tidak maksimalnya penanganan banjir di Jakarta.

Menurut dia, penyebab lain tidak selesainya penanganan banjir di Jakarta karena anggaran untuk program itu tergolong kecil.

Sayogo menjelaskan, dana yang dibutuhkan untuk penanganan banjir di Jakarta adalah Rp1,7 triliun. Artinya jika setiap tahun APBD DKI menganggarkan Rp1,7 miliar berarti dalam sepuluh tahun penanganan banjir di Jakarta bisa teratasi.

"Namun yang terjadi, anggaran setiap tahun untuk pengerukan kali tidak mencapai kebutuhan dana tersebut. Sudah anggaran kecil, penyerapan anggaran pun sangat kecil. Jadi, jangan berharap banjir di Jakarta bisa berkurang," kata Sayogo.

 

Pertengahan Oktober

Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Budi Widiantoro mengatakan, pengumuman pemenang akan dilakukan dalam waktu dekat ini.

Satu atau dua hari lagi pemenang tender akan diumumkan, kata Budi. Alasan keterlambatan pengerukan karena pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2008 terlambat.

Menurut Budi, pengerukan dengan anggaran Rp 23 miliar itu ditargetkan dapat mengangkat 243.320,74 meter kubik lumpur dan sampah dari dasar sungai. Dengan pengerukan itu, daya tampung sungai dan saluran air diharapkan meningkat dan tidak banyak air yang meluap saat puncak musim hujan, Februari mendatang.

Ke-12 anak sungai yang akan dikeruk itu adalah Kali Cakung Lama, Kali Petukangan, Kali Cakung, Kali Sentiong Salemba, Kali Taman Sari, Kali Apuran Bawah, Kali Apuran Atas, Kali Semanan, Kali Grogol, Kali Krukut, Saluran Warung Jengkol, dan Saluran Sentra Primer.

Pengerukan sungai dengan alat canggih dari Belanda akan dilakukan awal November. Saat ini, alat itu sedang dibawa ke Jakarta. Tahun ini, pengerukan dengan alat dari Belanda itu masih proyek percontohan. Sungai yang akan dikeruk dengan alat itu adalah Kali Ancol, Kali Mati, dan Kali Pademangan. Alat yang dioperasikan di ketiga sungai di Jakarta Utara itu dapat berfungsi menyedot lumpur dari dasar sungai sehingga hasilnya lebih efektif dan cepat.

Di sisi lain, pinjaman dana Bank Dunia untuk mengeruk 13 sungai utama masih dibahas. Beberapa peraturan perundangan yang menghambat akan ditinjau kembali. Ke-13 sungai itu melewati dua atau tiga provinsi sehingga tanggung jawab pengerukan dibagi antara DKI Jakarta dan pemerintah pusat. Pemerintah pusat juga bertanggung jawab menurap dan melebarkan badan sungai agar kapasitas sungai dapat ditambah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau