Tokoh-tokoh Nasional Debat Kebangsaan di Kaltim

Kompas.com - 16/10/2008, 22:25 WIB

BALIKPAPAN, TRIBUN-- Peringatan Sumpah Pemuda ke 80 tahun, gaungnya mulai terdengar. Dari Bumi Borneo (Kalimantan Timur), sebuah cita-cita mulia tengah digagas para anak-anak bangsa yang peduli kepada negaranya. Berawal dari obrolan ringan di warung kopi di tepi jalan kawasan Balikpapan, Kalimantan Timur, spirit besar telah lahir untuk mewujudkan Indonesia bermartabat.

“Kita sudah lama terjebak ke wilayah kontraproduktif, kita semua sudah terlalu lelah. Mari kita tinggalkan peristiwa masa lalu, kita ambil hikmah atau maknanya lalu kita isi bangsa ini dengan pemikiran-pemikiran yang bijak dan arif lalu kita berikan solusi yang tepat kepada bangsa ini," kata Nur Ihsan, anggota Dewan Pengarah Kongres Pemuda Kaltim 2008.

Menurutnya, dengan Kongres Pemuda Kaltim kali ini, kedepan diharapkan sudah tak ada lagi cacian, keluhan, kegundahan, kegaluan dan kecemasan terhadap nasib bangsa ini ke depan.
"Tantangan ke depan semakin berat. Untuk itu, bangsa Indonesia tak boleh menyakiti dirinya sendiri, tak boleh memperolok dirinya sendiri dan tak boleh menyesali masa lalu. Masa lalu mari kita jadikan pelajaran untuk menatap cahaya Indonesia yang saya yakin akan bersinar ketika semua penghuni di republik ini, mau merubah pola pikirnya," tambahnya.

Nur Ihsan berharap, api Sumpah Pemuda 1928 yang telah lama meredup, hidup dan disulut kembali oleh pemuda-pemuda yang berhati bersih, berjiwa bersih dan berpikiran bersih. "Mari  kita kobarkan dan kita hidupkan lagi semangat atau roh dari Sumpah Pemuda agar Indonesia lebih bermartabat dan dihargai oleh siapa saja,” jelasnya.

Sebenarnya, upaya untuk mengangkat kembali roh Sumpah Pemuda sudah pernah digagas oleh para pelajar Indonesia sekitar tahun 2007. Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) –sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng.  Hasilnya? Tak banyak yang tahu, apa action plan dari kegiatan itu.

Ihsan berharap, jiwa atau spirit dari Sumpah Pemuda Kaltim 2008 untuk membesarkan dan mengharumkan nama baik Indonesia di mata masyarakat Indonesia dan dunia internasional, kembali ternyalakan. "Kita juga akan jadikan jadikan spirit Sumpah Pemuda 1928 sebagai batu pijakan bagi pemuda agar lebih siap menghadapi berbagai macam tantangan di masa mendatang," tambah Wakil Sekretaris Kongres Pemuda Kaltim 2008, Agus Amri.

Dibalik rencana itu, mereka berkeinginan setelah Kongres Pemuda mendatang akan lahir kesadaran baru dalam mencintai Indonesia dengan menggunakan cinta, keadilan, beretika, baik hati, profesional dan rendah hati. “Gerakan penyadaran kepada semua kekuatan bangsa itu kami lakukan agar bangsa ini lebih banyak berjalan menggunakan jiwa, hati dan pikiran yang bersih (bermartabat) serta lebih mengedepankan kepentingan bangsa di atas segala-galanya. Tujuan kami lainnya adalah menggali dan menggerakan seluruh potensi untuk pencerdasan dan kecerdasan bangsa serta menghimpun kekuatan pemuda agar bersungguh-sungguh memikirkan dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsanya,” ungkapnya.

Kongres Pemuda Kaltim 2008 akan diadakan selama dua hari di Kota Minyak Balikpapan. Hari pertama, semua elemen pemuda akan mengikuti rapat akbar. Kemudian masing-masing perwakilan akan masuk dalam komisi-komisi untuk merumuskan langkah-langkah konkrit buat bangsanya. Esoknya dilanjutkan dengan pembacaan Sumpah Pemuda hasil Kongres se Kaltim, diteruskan dengan Seminar Kebangsaan dengan menghadirkan tokoh-tokoh nasional. Sesuai rencana mereka yang diharapkan hadir adalah Akbar Tanjung, Dien Syamsuddin, Hidayat Nurwahid, Jimly Asshsyidiqie, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Sutiyoso, Sutrisno Bachir, Wiranto dan Yusril Ihza Mahendra.

Pihak Panitya Kongres juga berencana akan mengundang sejumlah pembanding diantaranya, Anies Baswedan (Rektor Univ. Paramadina), Rikard Bagun (Wapemred KOMPAS), Primus Dorimulu (Pemred Investor Daily), Ahmad Djauhari (Pemred Bisnis Indonesia), Titin Rosmasari (Pemred Trans7), Andy F. Noya (MetroTV), Kornelis Purba (Wartawan Senior Jakarta Post), Kristanto Hartadi (Pemred Sinar Harapan),     Fadjloer Rachman, Hermawan Sulistyo (Pakar Politik/Peneliti LIPI), Sugeng Hariadi (Dosen Unmul) dan Poppy Dharsono (Ketua Kompartemen UKM KADIN).
 
Sedangkan moderatornya, AM Putut Prabantoro (Ketua Ekayastra Unmada), Priyo Suwarno (Redpel Tribun Kaltim), Peggy Melati Sukma (Artis/Aktivis) dan Amanda Putri W (Putri Indonesia Pendidikan 2008). (BEC)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau