YOGYAKARTA, KOMPAS - Sejumlah ruas talud sungai di Kota Yogyakarta rawan longsor apabila terkena hujan lebat. Hal ini dikarenakan umur talud telah tua dan sebagian kondisinya ada yang retak-retak.
Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Yogyakarta Eko Suryo Maharsono, Selasa (21/10), mengemukakan kondisi talud atau tebing sungai yang rawan tersebar di tiga sungai besar, yakni Code, Winongo, dan Gajah Wong.
"Untuk talud yang rawan berada di Sungai Code karena bangunannya agak kuno. Talud Code dibangun tahun 1980-an. Sedang untuk sungai lain, seperti Gajah Wong, yang rawan adalah tebingnya. Di sana bangunan taludnya relatif baru dibanding Code," ujarnya.
Eko menyontohkan talud Sungai Code yang rawan berada pada ruas tengah, yakni daerah Sayidan (rumah susun baru di Jalan Juminahan) ke utara dan daerah Prawirodirjan. Ruas lainnya adalah ruas sekitar Jembatan Jalan Dr Sardjito ke utara. Bahkan, talud di daerah ini sempat longsor cukup tinggi saat musim hujan tahun lalu.
Kondisi talud dan tebing Winongo juga belum semuanya baik. Untuk alur di Kelurahan Bener, misalnya, masih terdapat 919,5 meter tepian sungai yang masih berupa talud dari tanah atau belum di dibronjong menggunakan batu kali. Demikian pula untuk sungai Gajah Wong, beberapa titik sempat longsor pada dua musim hujan tahun lalu, salah satunya di sebelah selatan Jalan Ngeksigondo di Kotagede.
Tingkat kerawanan talud sungai, menurut Eko juga tidak lepas dari aktivitas masyarakat yang mendiami bantaran sungai. Selama ini banyak berdiri bangunan baru yang membahayakan lingkungan sungai.
"Kami sudah berusaha mengantisipasi jika terjadi longsor. Batu kali dan bronjong telah kami siapkan. Dalam jangka pendek, jika terjadi longsor, kami akan berupaya mengembalikan aliran sungai dengan bronjong," ujarnya.
Antisipasi lain yang telah dilakukan Dinas Kimpraswil Kota adalah melakukan perbaikan pada sejumlah talud. Tahun ini, misalnya, mereka menyiapkan dana Rp 600-Rp 700 untuk membuat bronjong di beberapa lokasi.
"Perbaikan berjalan terus, meski belum bisa semuanya karena dana yang terbatas. Untuk itulah, peran serta masyarakat diperlukan, terutama untuk bergotong royong bila ada bencana," kata Eko.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang