Amir Sodikin
Apakah kalau kita menggunakan perangkat lunak sumber terbuka atau Open Source berarti citra kita ”murahan” karena memanfaatkan barang gratisan? Tidak! Dunia telah berubah, semangat berbagi telah jadi tren sendiri. Nokia, salah satu perusahaan besar, kini dengan mantap meyakini era Open Source sebagai kekuatan baru.
Akhir September lalu, Nokia mengundang wartawan dari berbagai negara untuk mengikuti konferensi kecil yang khusus digelar untuk wartawan di Nokia House, Espoo, Finlandia. Tak ada peluncuran produk baru, tetapi konferensi dengan tema The Way We Live Next ini justru menekankan bahwa produk hardware bukanlah segalanya.
Para petinggi dari Nokia sepakat, justru pencapaian paling revolusioner Nokia saat ini bukan pada perangkat keras, melainkan pada perangkat lunak. Jika pengembangan perangkat keras selalu mentok pada keterbatasan teknologi, perangkat lunak terus menciptakan ”keajaiban” melalui pemecahan kode-kode dari para developer.
Oleh karena itu, pengembangan perangkat lunak, khususnya sistem operasi Symbian yang banyak digunakan smartphone Nokia, menjadi urgen. Uniknya, kepercayaan mengembangkan Symbian bukan didominasi sendiri, melainkan akan diserahkan kepada komunitas Open Source di bawah bendera Symbian Foundation.
Lembaga ini merupakan organisasi nonprofit yang diumumkan 24 Juni 2008. Nokia menggandeng Sony Ericsson, Motorola, NTT DoCoMo, AT&T, LG Electronics, Samsung Electronics, STMicroelectronics, Texas Instruments, dan Vodafone.
Selain dana, Nokia memberi kontribusi Symbian OS dan S60. Ini adalah kontribusi yang mengejutkan karena saat ini Symbian sedang memimpin. Sony Ericsson dan Motorola memberi kontribusi andalan mereka, yaitu UIQ. Sementara itu, NTT DoCoMo memberi kontribusi MOAP(S).
Dengan tiga platform ternama itu, masa depan Symbian Foundation cukup menjanjikan untuk mendominasi user interface telepon genggam.
Tidak mudah
Vice President, Technology Management Devices Research & Development Nokia, David Rivas, menekankan, membuat sistem operasi perangkat bergerak itu tidak mudah. ”Butuh waktu lama untuk mendapatkan kepercayaan, dan Symbian kini telah memimpin pasar,” katanya.
Dengan asumsi itu, Senior Vice President, Chief Technology Officer Nokia, Bob Iannucci, membantah anggapan bahwa Symbian Foundation lahir sebagai jawaban dari hadirnya Android, sistem operasi perangkat bergerak yang diluncurkan Google.
”Sudah lama kami berada di bisnis ini, jadi tidak benar kalau ini respons kami atas Android,” kata Iannucci ketika diwawancarai secara terpisah. Dia meyakini, Open Source adalah sebuah pilihan bersama untuk membangun platform sistem operasi yang lebih berdaya.
David Rivas memberi data, saat ini sistem operasi S60 pada Symbian OS telah mendominasi sistem operasi yang ada di dunia ini. Jadi, tak ada alasan bagi Nokia untuk khawatir dengan Android.
Symbian digunakan lebih dari 150 juta perangkat bergerak yang diproduksi Nokia, Samsung, Lenovo, dan LG. Saat ini saja di bawah Symbian sudah ada 6.000 aplikasi komersial yang dibangun para pengembang program.
Menurut data Canalys Estimates pada Agustus 2008, sistem operasi pada smartphone didominasi S60 yang menguasai 46,6 persen, disusul RIM sebesar 16,7 persen, Microsoft 14,3 persen, Symbian MOAP 10,2 persen, Linux 6,2 persen, Palm 2,4 persen, dan Apple OS 2,1 persen.
”Symbian memberi pengalaman bagi pengguna untuk bisa terhubung dengan internet secara intensif. Kami fokus pada pengembangan Web 2.0 yang melibatkan pengguna profesional, pengembang web, pengembang Flash, pengembang Open Source, dan teknologi web canggih seperti AJAX, HTML, CSS, JavaScript, dan Flash,” kata Rivas.
Jadwal peluncuran
Uniknya, keanggotaan yayasan bersifat terbuka sehingga siapa pun, termasuk pribadi, bisa bergabung. ”Hanya dengan membayar 1.500 dollar AS, siapa pun bisa bergabung dan mereka akan mendapat akses kode dan bisa mengontrol jalannya yayasan,” kata Rivas.
Nantinya, semua karya di bawah yayasan ini akan digratiskan di bawah lisensi Open Source. Semua piranti lunak yang kini sudah berjalan di Symbian akan tetap berjalan sehingga pengguna smartphone berbasis Symbian versi sekarang tak perlu khawatir. Pengembang aplikasi komersial di bawah Symbian nantinya juga makin memiliki pangsa pasar yang lebih luas.
Sebelum Symbian Foundation resmi berjalan, Nokia harus menyelesaikan persoalan saham di Symbian Limited. Namun, ketika didesak, berapa banyak dana yang digelontorkan Nokia untuk ”membeli” Symbian Ltd, David Rivas tak mau komentar.
”Uangnya cukup untuk operasional yayasan. Ini, kan didanai banyak pihak, jadi bukan Nokia saja yang membiayai,” katanya.
Semester pertama 2009, Symbian Foundation dijadwalkan resmi diluncurkan. Tahun 2009 dijadwalkan integrasi berbagai software selesai sehingga pada tahun yang sama kode sumber sudah tersedia untuk anggota. Setelah versi pertama diluncurkan, tahun 2010 Symbian Foundation baru merilisnya di bawah Open Source.
Semakin terang, Open Source makin menjadi salah satu jalan menuju ”pembebasan” dari belenggu dominasi perangkat lunak model sumber tertutup berbayar. Bagi pencinta Open Source, akar filosofinya begitu dalam, yaitu bahwa kode script merupakan pengetahuan publik seperti halnya aritmatika, pantang bagi seorang akademisi tulen untuk menutup-nutupi sumber-sumber kode tersebut. Berbagilah!
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang