Debat Capres-Cawapres Lima Kali

Kompas.com - 23/10/2008, 13:27 WIB

JAKARTA,KAMIS - Setelah berdebat sekitar satu jam, aturan debat capres dan cawapres menjelang pilpres 2009 akhirnya disepakati dengan komposisi tiga kali debat untuk calon presiden dan dua kali debat untuk calon wakil presiden. Jumlah debat sebanyak lima kali dipandang cukup bagi masyarakat untuk mengenali visi dan misi calon.

Hal ini diputuskan dalam raker Pansus RUU Pilpres dan pemerintah dengan agenda mendengarkan laporan panja di Gedung DPR RI, Kamis (23/10). "Debat diputuskan diadakan lima kali," ujar pimpinan Pansus Ferry Mursyidan Baldan dari Fraksi Golkar.

Aturan mengenai debat yang terdapat dalam rumusan pasal 39 ayat (1) RUU Pilpres ini sebelumnya mendapat keberatan dari Fraksi PDI-P dan fraksi PDS.

Menurut kedua partai ini, debat cukup dilakukan tiga kali mengingat besarnya anggaran yang mungkin dikeluarkan jika semakin banyak debat yang dilakukan. Selain itu, Pastor Saut Hasibuan dari Fraksi PDS mengatakan debat cukup diselenggarakan tiga kali karena makin banyak debat berpotensi menimbulkan debat kusir daripada debat murni.

"Debat presiden jangan kebanyakan, cukup sekali. Kan sudah cukup mendengar visi misi mereka. Kalau kebanyakan jangan sampai nanti cuma jadi debat kusir saja. Kusir juga bisa jadi kuda," ujar Pastor. Sementara itu, pemerintah yang diwakili oleh Mensesneg Hatta Rajasa mendukung keputusan penyelenggaraan debat hanya sebanyak lima kali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau