WASHINGTON, KAMIS - Lebih sedikit pejuang asing masuk Afganistan sejak Pakistan melancarkan serangan pada Agustus terhadap gerilyawan Al Qaida dan Taliban di daerah suku perbatasan, kata Pentagon pada Rabu.
Dalam temu media, jurubicara Departemen Pertahanan Amerika Serikat Geoff Morrell menyambut "peningkatan gerakan" oleh tentara Pakistan di Peshawar, dan khususnya di Swat, dalam dua bulan terahir.
"Itu meningkat tidak hanya dalam kadar, tapi keberhasilan," kata Morrell, "Akibatnya, kami melihat beberapa perbaikan dalam aliran pejuang asing melintasi perbatasan masuk Afganistan."
Ia menyatakan penilaian itu datang dari sumber Amerika Serikat, tapi ia tidak memberi angka, seperti, berapa sedikit pejuang asing menyeberang perbatasan sejak serangan Pakistan itu yang dilancarkan di antara tekanan kuat Amerika Serikat itu dimulai.
Tampaknya, gerakan Pakistan bukan hanya lebih sering, tapi juga "lebih berhasil", dengan "lebih banyak tentara, lebih banyak sumberdaya, barangkali strategi lebih baik "diabdikan" untuk tugas itu, katanya.
Tentara Pakistan pada ahir September menyatakan lebih dari 1.000 pejuang --termasuk panglima gerakan Al Qaida di daerah itu, Abu Saeed Al-Masri asal Mesir-- tewas dalam serangannya di Bajaur.
Washington dan Kabul menyatakan pejuang menggunakan daerah terpencil perbatasan Pakistan untuk melancarkan serangan terhadap pasukan pimpinan Amerika Serikat dan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO, yang ditempatkan di Afganistan.
Daerah suku Pakistan hancur oleh kekerasan sejak ribuan pejuang Taliban dan Al Qaida lari ke negara itu setelah serbuan pimpinan Amerika Serikat pada 2001.
Afganistan membangun kembali pasukan keamanannya di bawah dukungan penuh Amerika Serikat dan negara lain anggota NATO.
Lebih dari 80.000 tentara negara itu dilatih sejak pemerintah Taliban digulingkan pada 2001.
Pasukan itu dan 60.000 tentara asing menghadapi perlawanan Taliban, yang dilancarkan beberapa bulan sesudah Amerika Serikat menumbangkan pemerintah Taliban sebagai balasan atas serangan 11 September 2001 atas negara adidaya tersebut.
Ratusan warga tewas dalam gerakan pasukan asing sejak Taliban digulingkan dari kekuasaan pada 2001.
Pada tahun ini, Taliban meningkatkan serangan di Afganistan. Hampir 1.500 warga, termasuk lebih dari 4.000 orang, tewas dalam kemelut di Afganistan sepanjang tahun ini.
Peningkatan jumlah korban akibat kekerasan Taliban di Afganistan membuat sejumlah negara berencana mengurangi atau menarik pasukannya, yang tergabung dalam pasukan bantuan keamanan asing ISAF pimpinan NATO.
Pemerintah Afganistan pada Rabu mengecam pembantaian atas sembilan tentaranya oleh serangan udara pasukan sekutu, dengan menyatakan semangat digerogoti oleh kejadian seperti itu.
Sembilan tentara Afgan didikan Amerika Serikat tewas dan tiga lagi luka sesudah helikopter pasukan asing menembaki pos pemeriksaan mereka di propinsi Khost, Afganistan timur, pada Rabu, kata kementerian pertahanan Afganistan.
Dikatakannya bahwa kejadian seperti itu merusak semangat pasukan keamanan negara terkoyak perang tersebut, yang menghadapi peningkatan perlawanan maut pimpinan Taliban.
Tentara Amerika Serikat mengakui pasukan sekutu "secara salah membunuh dan melukai" tentara Afganistan di propinsi Khost sebagai perkara salah mengenali dan menyatakan menyelidiki masalah tersebut.
Kesalahan saat gerakan tentara semacam itu kerap terjadi dan telah menewaskan ratusan orang dalam tujuh tahun terahir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang