JAKARTA, SENIN – Pengaruh krisis ekonomi global imbasnya makin menggigit bisnis otomotif di Indonesia. Setelah melaju kencang di jalan “tol” sampai Juli 2008, penjualan mobil di Indonesia mulai memasuki “special stage” sejak Agustus 2008 dengan medan yang tidak menentu dan susah diperhitungkan. Para pelaku bisnis otomotif pun susah membaca situasi dan prediksi ke depan.
Mobil Impor
Menjelang akhir Oktober, kondisi malah makin berat. Pasalnya, nilai rupiah merosot. Padahal, untuk membeli mobil ke prinsipalnya, terutama impor, harus pakai dolar. Bagi kendaraan yang sudah dirakit dan sebagian komponen masih diimpor, dipastikan juga kena imbas. ATPM tampak masih berhitung. “Untuk sementara belum ada kenaikan harga,” jelas Amelia Tjandra dari Daihatsu yang masih mengimpor Sirion dari Malaysia.
Berdasarkan data Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), penjualan mobil impor CBU di Indonesia berkisar 13% dari seluruh mobil yang dipasarkan di Indonesia. Selebihnya adalah kendaraan yang dirakit di Indonesia, mulai dari penumpang sampai komersial. Faktor tersebutlah yang menyebabkan penurunan penjualan tidak terlalu tajam.
Mobil Baru
Dari data yang dikirimkan Gaikindo ke kompas.com, untuk Januari – September 2008, tren penurunan penjualan mulai terjadi sejak Agustus, terutama untuk kategori penumpang. Untuk komersial, bus, pick up dan truk, puncaknya penjualan justru pada Agustus. Setelah itu, kendaraan komersial ikut turun penjualan. Meski begitu penjualan pada September lebih baik dibandingkan periode 3 bulan pertama 2008. Penurunan pun tidak seperti “roller coaster!”
Sebagian ATPM semula memperkirakan penurunan karena selama dua bulan tersebut – termasuk awal Oktober – karena banyaknya hari libur. Tetapi dengan makin kuatnya tekanan krisis ekonomi Amerika Serikat dan global, dan terjadi juga di tanah air, para petinggi ATPM pun melakukan koreksi target penjualan mulai awal Oktober ini. Hal tersebut berkenaan dengan penjualan mobil baru di tanah air sekarang ini, 80% dibiayai secara kredit dengan dana dari perusahaan leasing.
Sebagai contoh, Johnny Darmawan presdir Toyota, meski beberapa produknya masih inden sampai akhir tahun ini, memperkirakan penjualan mobil nasional yang semula ditargetkan 600.000 unit, diperkirakan turun 580.000 unit. Sedangkan Suparno Djasmin, yang menangani penjualan Daihatsu di Indonesia, menurunkan target salah satu produknya, yaitu Sirion, dari 500 unit/bulan menjadi 400 unit/bulan.
Saat ini, mobil yang paling laku di Indonesia sudah dirakit dan sebagian besar komponen sudah dibuat di tanah air. Mobil tersebut adalah Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia.
Bekas Kena Imbas
Di sektor mobil bekas, meski tidak ada pendataan yang akurat, namun dari perusahaan leasing yang ikut membiayai pembelian, mengaku terjadi penurunan. Suara pedagangan mobil bekas pun tidak sama. Sebagai contoh, Bursa Mobil Bekas WTC M2 dengan 270 pedagang ada yang mengatakan sepi setelah lebaran, ada pula yang mengaku biasa-biasa saja.
Turunnya penjualan mobil bekas karena bunga kredit yang ditawarkan perusahaan pendaanaan juga naik. Sejak awal September lalu, pihak leasing mengaku mulai menaikkan bunga, berkisar dari 1 – 2,5%. Akibatnya, sebagian calon konsumen menunda pembelian.
Menurut Verena Oto Finanance, kini mereka menawarkan bunga 9,5% untuk satu tahun dan 10,5% untuk dua tahun buat mobil baru. “Masalahnya, dana tunai sekarang ini juga agak seret. Bunga pinjaman bank naik. Kita juga harus menaikkan bunga kepada konsumen,” jelas Herbert, regional manager Verena Oto Finance di Pacenongan.
Sementara itu BCA Finance - untuk mobil baru -menawarkan bunga 6,5% untuk jangka kredit setahun, 7,5% untuk dua tahun dan 8,5% untuk tiga tahun. Kini anak perusahaan bank swasta terbesar di Indonesia itu mengaku lebih selektif dalam memberikan kredit.
“Kini makin diperketat saja! Kita berusaha mengurangi risiko,” jelas Daniel Onggo, regional manager BCA Finance, MT Haryono, Jakarta saat ditemui di Bursa Mobil bekas WTC M2.
Menurut kedua lembaga leasing tersebut, pembiayaan kredit lebih banyak dikucurkan kepada pembeli mobil baru dibandingkan mobil bekas. Penyebabnya, yang dikenakan lebih rendah dibandingkan untuk membiayai mobil bekas. Untuk mobil bekas, BCA Finance, menggenakan bunga 9% (setahun), 10% (dua tahun) dan 11% (tiga tahun).
Kalau sudah begini, para dealer dituntut harus lebih kreatif menawarkan berbagai fasilitas pembelian. Di beberapa mall sudah ada yang menawarkan “cash back” sampai Rp 5 juta untuk kendaraan seharga Rp 120 juta. Mereka pun para pedagang itu berkomentar, baik mobil baru maupun bekas , “Inilah saat yang tepat membeli mobil!”
Lha, apa benar? Harga mobil makin mahal! Bunga kredit makin tinggi! Cara memperoleh kredit juga makin susah!
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang