Jepang Mulai Kaji KA Super Cepat Di Indonesia

Kompas.com - 28/10/2008, 18:14 WIB

 

 

MADIUN, KOMPAS - Japan Transportation Consultant dengan dana dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC), telah melakukan kajian awal (pre-eliminary study ) kereta api super cepat di Indonesia. Kereta ini diharapkan sudah ada di Indonesia tahun 2020.

Menurut Manajer Pengembangan Usaha PT Industri Kereta Api, Agung Sedaju, Selasa (28/10), tim ini mengkaji kemungkinan jaringan kereta api super cepat dibangun dari Surabaya ke Jakarta. Ada dua jalur yang dikaji, jalur pertama menyusuri pantai utara Jawa dan satu lagi, dari Surabaya-Madiun-Solo, lalu ke utara, menyusuri pantai utara Jawa sampai di Jakarta.

"Jalur utara dipilih daripada lewat jalur selatan karena lebih banyak penduduk tinggal di utara Jawa daripada selatan Jawa," kata Agung.

Direktur Utama PT Industri Kereta Api Roos Diatmoko mengatakan kajian yang dilakukan ini merupakan bagian dari rencana road map revitalisasi kereta api ke depan di mana salah satunya menargetkan kereta super cepat sudah ada di Indonesia pada tahun 2020.

Tipe kereta api cepat yang akan dipakai rencananya tipe N (New)-700, yang merupakan produksi terkini dari Nippon Sharyo, perusahaan pembuat kereta api dari Jepang. Nippon Sharyo merupakan perusahaan swasta pertama di Jepang yang mengembangkan shinkansen pada tahun 1954.

"Sudah sejak tahun 1981, PT Inka bekerja sama dengan Nippon Sharyo untuk memproduksi sejumlah kereta api, seperti gerbong barang, batu bara, dan tangki. Saat pembuatan kereta super cepat nantinya, kami juga akan bekerja sama dengan Nippon Sharyo," tambahnya.

Kereta api cepat N-700 dapat melaju dengan kecepatan 300 kilometer per jam sampai 500 kilometer per jam, sehingga Jakarta-Surabaya sejauh sekitar 600 kilometer bisa ditempuh hanya dua jam lebih dua puluh menit. Hal ini jauh lebih cepat dari kereta api yang ada sekarang yang paling cepat bisa menempuhnya dalam waktu sekitar sepuluh jam.

PT Inka belum menghitung dana yang dibutuhkan untuk membuat kereta ini sekaligus jaringan relnya. Namun kalau melihat pembuatan kereta super cepat berikut jaringannya di Taiwan dengan panjang 333 kilometer yang dibutuhkan dana Rp 200 triliun, maka di Indonesia bisa dua kali lipatnya.

Mimpi membangun jaringan kereta super cepat di Indonesia sudah muncul tahun 1994, bahkan perusahaan perkeretaapian asal Perancis, SNCF, telah mensurvai kemungkinan jaringan dibuat dari Jakarta-Surabaya. Namun mimpi ini tidak bisa direalisasikan karena Indonesia terkena krisis moneter tahun 1997-1998.

Roos Diatmoko mengatakan maket dari KA super cepat Indonesia ini akan dipamerkan di Indonesia Japan Expo 2008, tanggal 1-9 November 2008 di Arena International Expo Kemayoran. Pameran ini merupakan bagian dari peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang.    

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau