INDRAMAYU, SELASA - Reaktor Atmosphery Residu Hydro de Metalizer di Kilang Balongan milik PT Pertamina Unit Pengolahan VI meledak. Akibatnya, enam pegawai jadi korban, juga ada orang yang mengalami syok.
Sampai Selasa (28/10) malam, belum diketahui penyebab utama ledakan tersebut. Empat korban masih dirawat inap di Rumah Sakit Bumi Patra Pertamina, diantaranya Daryo (18), Carli (40), Danudi (20), dan Johanes. Sementara dua korban yang sempat dibawa ke rumah sakit hanya lakukan rawat jalan.
Menurut Sayati, kerabat Daryo, saudaranya mengalami luka bakar di bagian tangan, dada, leher, dan kepala. "Dia mengeluh panas dan sakit. Tetapi sekarang sudah berkurang setelah diberi salep dan obat," kata Sayati.
Menurut Carli, korban lainnya, ledakan terjadi saat dia sedang istirahat. Untungnya, ledakan hanya menyebabkan siku tangan kirinya terbakar. Sayangnya, dia tidak melihat pasti asal ledakan dari tabung atau bagian reaktor yang mana.
Selain luka bakar, umumnya korban mengalami syok dan gangguan pendengar karena suara ledakan yang keras.
"Sebelum dibawa ke rumah sakit, kami dibawa ke klinik lebih dulu. Ada banyak pegawai lain yang masuk klinik dan mengalami syok karena suara ledakan yang keras," ujar Carli.
Sampai malam hari, setelah Kepolisian Resor Indramayu melakukan olah tempat kejadian perkara, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pertamina. Untuk sementara, ledakan diduga berasal dari Reaktor Atmosphery Residu Hydro de Metalizer saat penggantian katalis atau change out catalist.
Penyebabnya, sisa tekanan gas yang tinggi dan perbedaan temperatur dari vassel (tempat menampung sisa minyak mentah) saat akan dibersihkan. Diperkirakan ledakan itu akan memengaruhi proses pengolahan minyak di UP VI Balongan.
Namun, hal itu belum ada pernyataan resmi dari Pertamina. (THT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang