”Kami telah mengambil alih kota Rutshuru dan kota Kiwanja,” kata Bertrand Bisimwa, juru bicara kelompok pemberontak, Kongres Nasional untuk Pembelaan Rakyat (CNDP).
Rutshuru adalah tempat bernaung puluhan ribu pengungsi yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik selama bertahun- tahun. Kolonel Delphin Kahimbi, kepala operasi militer RD Kongo, mengatakan, kamp pengungsi di Rutshuru telah kosong.
Dia menambahkan, pasukannya harus meninggalkan kota karena pemberontak terus merangsek maju sejak hari Minggu lalu.
Pasukan penjaga perdamaian PBB di RD Kongo tengah berupaya mengevakuasi sekitar 50 pekerja kemanusiaan asing yang terjebak di Rutshuru.
”Situasi sangat tegang. Mereka diblokir oleh penduduk dan tentara. Instalasi kemanusiaan juga diserang dan dijarah,” kata Evo Brandau, juru bicara kantor kemanusiaan PBB.
Sehari sebelumnya, tentara RD Kongo dan pasukan PBB terpaksa mundur karena diserang kelompok pemberontak. Warga yang marah karena tentara tidak bisa lagi melindungi mereka melempari markas PBB di Rutshuru dengan batu.
Ada sekitar 17.000 personel penjaga perdamaian PBB di RD Kongo. Mereka mencoba melindungi warga dari serangan pemberontak Tutsi. Kepala pasukan penjaga perdamaian PBB, Alain Le Roy, telah meminta tambahan pasukan.
Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) menyatakan tengah bersiap menyambut kedatangan 30.000 pengungsi dari wilayah pertempuran di Ruthsuru dan Kibumba di kamp Kibati, 10 kilometer utara Goma.
Di Kinshasa, Pemerintah RD Kongo menuding Rwanda secara aktif mendukung Jenderal Nkunda dan CNDP. Tudingan itu dibantah Rwanda.
Presiden Rwanda Paul Kagame mengadakan pembicaraan dengan utusan Presiden RD Kongo Joseph Kabila, Rabu. Media Rwanda melaporkan, utusan Kabila telah mengusulkan pertemuan tingkat tinggi pemimpin kedua negara untuk membahas persoalan di Goma.
Provinsi Kivu Utara telah menjadi ajang pertempuran antara tentara pemerintah dan kelompok pemberontak sejak gencatan senjata terhenti, Agustus lalu. Nkunda menuding militer RD Kongo bekerja sama dengan pemberontak Hutu di Rwanda melakukan genosida suku Tutsi tahun 1994 di Rwanda.(ap/afp/reuters/fro)