Pemberontak Rebut Kota Rutshuru

Kompas.com - 30/10/2008, 08:03 WIB
 
 
GOMA, RABU - Pertempuran sengit pecah antara tentara Republik Demokratik Kongo dan kelompok pemberontak suku Tutsi, Rabu (29/10). Kelompok pemberontak pimpinan Jenderal Laurent Nkunda mengklaim berhasil merebut kota Rutshuru di Provinsi Kivu Utara, dekat perbatasan RD Kongo dan Rwanda.

”Kami telah mengambil alih kota Rutshuru dan kota Kiwanja,” kata Bertrand Bisimwa, juru bicara kelompok pemberontak, Kongres Nasional untuk Pembelaan Rakyat (CNDP).

Rutshuru adalah tempat bernaung puluhan ribu pengungsi yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik selama bertahun- tahun. Kolonel Delphin Kahimbi, kepala operasi militer RD Kongo, mengatakan, kamp pengungsi di Rutshuru telah kosong.

Dia menambahkan, pasukannya harus meninggalkan kota karena pemberontak terus merangsek maju sejak hari Minggu lalu.

Pasukan penjaga perdamaian PBB di RD Kongo tengah berupaya mengevakuasi sekitar 50 pekerja kemanusiaan asing yang terjebak di Rutshuru.

”Situasi sangat tegang. Mereka diblokir oleh penduduk dan tentara. Instalasi kemanusiaan juga diserang dan dijarah,” kata Evo Brandau, juru bicara kantor kemanusiaan PBB.

Sehari sebelumnya, tentara RD Kongo dan pasukan PBB terpaksa mundur karena diserang kelompok pemberontak. Warga yang marah karena tentara tidak bisa lagi melindungi mereka melempari markas PBB di Rutshuru dengan batu.

Ada sekitar 17.000 personel penjaga perdamaian PBB di RD Kongo. Mereka mencoba melindungi warga dari serangan pemberontak Tutsi. Kepala pasukan penjaga perdamaian PBB, Alain Le Roy, telah meminta tambahan pasukan.

Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) menyatakan tengah bersiap menyambut kedatangan 30.000 pengungsi dari wilayah pertempuran di Ruthsuru dan Kibumba di kamp Kibati, 10 kilometer utara Goma.

Di Kinshasa, Pemerintah RD Kongo menuding Rwanda secara aktif mendukung Jenderal Nkunda dan CNDP. Tudingan itu dibantah Rwanda.

Presiden Rwanda Paul Kagame mengadakan pembicaraan dengan utusan Presiden RD Kongo Joseph Kabila, Rabu. Media Rwanda melaporkan, utusan Kabila telah mengusulkan pertemuan tingkat tinggi pemimpin kedua negara untuk membahas persoalan di Goma.

Provinsi Kivu Utara telah menjadi ajang pertempuran antara tentara pemerintah dan kelompok pemberontak sejak gencatan senjata terhenti, Agustus lalu. Nkunda menuding militer RD Kongo bekerja sama dengan pemberontak Hutu di Rwanda melakukan genosida suku Tutsi tahun 1994 di Rwanda.(ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau