Konversi Lahan Ancam Ketahanan Pangan

Kompas.com - 30/10/2008, 23:38 WIB

SLAWI, KAMIS — Konversi atau alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan tidak produktif berpotensi mengancam ketahanan pangan di suatu daerah. Untuk itu, mesti ada upaya pencegahan seperti, pemberian insentif bagi pemilik sawah, perlindungan terhadap komoditas petanian, dan pembatasan izin alih fungsi.

Hal itu dikatakan Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal Toto Subandriyo dalam seminar Hari Pangan Sedunia bertema Ketahanan Pangan, Perubahan Iklim, Bioenergi, dan Kemandirian Petani di Slawi, Kabupaten Tegal, Kamis (30/10).

"Kepemilikan lahan pertanian yang semakin sempit sama saja menghilangkan basis produksi terpenting bagi petani," ujar Toto. Oleh karena itu, pemberian izin konversi lahan tersebut mesti berdasarkan pertimbangan bukan justru dijadikan investasi.

Jangan sampai biaya retribusi izin ini ditargetkan dalam pendapatan asli daerah yang justru memicu b anyaknya lahan pertanian berlih fungsi, katanya. Upaya lainnya, lanjut Toto, pemerintah dapat memberikan insentif dengan cara mengurangi pajak terhadap lahan pertanian. Perlindungan harga komoditas pertanian juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi fluktuasi harga.

Toto mencontohkan, terdapat 10 hektar lahan pertanian di Kabupaten Tegal yang beralih fungsi setiap tahunnya. "Pada awal tahun 1980-an masih terdapat 40.000 hektar lahan pertanian, sekarang ini sudah menyusut sekitar 15 persen karena beralih fungsi," ucapnya.

Akibatnya, hasil panen terus menurun. Toto mencontohkan, pada tahun 2005, Kabupaten Tegal dapat menghasilkan 295.000 ton gabah kering giling (GKG), tetapi jumlah ini menurun menjadi 290.000 ton GKG pada tahun 2006.

Selain konversi lahan, Toto menambahkan, terdapat faktor lain seperti iklim, bencana kekeringan, dan serangan hama penyakit yang turut memengaruhi produksi beras.

Untuk mengatrol produktivitas panen, Toto mengakui, mesti ada terobosan seperti upaya peningkatan indeks penanaman dan teknologi budidaya. Seperti pembangunan irigasi pompa di Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal yang mampu mengairi 300 hektar sawah sehingga meningkatkan frekuensi musim tanam dari satu kali menjadi tiga kali dalam setahun, ucap Toto mencontohkan.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau