Amien Rais dan Wiranto Main Kabaret

Kompas.com - 31/10/2008, 01:29 WIB

JAKARTA, JUMAT--Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, Ketua Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto, serta Menteri Kesehatan Dr.Siti Fadilah Supari dipastikan akan ikut ambil bagian dalam pergelaran musik kabaret untuk amal bertajuk  "Medicabaret" , yang akan diselenggarakan pada hari Minggu (2/11) di Grand Chapel, Lippo Karawaci, Banten.

"Mereka sudah konfirmasi akan ambil bagian dalam pertunjukan ini dengan mempertunjukkan kebolehan mereka bernyanyi. Mereka sudah ikut berlatih. Mereka betul-betul serius ikut ambil bagian karena ini adalah pertunjukan amal. Hasilnya akan disumbangkan ke Yayasan Otak Indonesia," kata Performance Director pergelaran tersebut, Endang M.Johani, di Jakarta, Kamis.

Menurut Endang, selain ketiga tokoh tersebut, juga terdapat beberapa nama tokoh lainnya yang akan ikut berpartisipasi, seperti seniman Jaya Suprana, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr.Ratna Sitompul, serta Ny.Herawati Wirayuda, istri Menlu Hassan Wirayuda.

Endang menjelaskan, Medicabaret merupakan sebuah pertunjukan kabaret yang melibatkan sekitar 300 pemain, terdiri atas 72 dokter dan 78 perawat dari RS.Siloam serta 150 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK-UPH), Lippo Karawaci.

Pertunjukan itu terdiri atas drama musikal bertema "The Glowing Star of Love", paduan suara, "fashion show", barongsai dan tari-tarian dengan koreografer Meiyunio Adamis. Pertunjukan tersebut disponsori PT.Lippo Karawaci, Tbk, Matahari Department Store, Hypermart, dan RS.Siloam.

"Seluruh keuntungan dari penjualan tiket Medicabaret akan disumbangkan kepada Yayasan Otak Indonesia," kata Endang, yang juga seorang dokter spesialis mata pada RS.Siloam.

Dikatakan, tiket dijual mulai dari harga termurah kelas festival tribun Rp300 ribu per tiket hingga termahal Super VIP Rp5 juta per tiket. Dia menargetkan dapat memperoleh dana amal dari penjualan tiket serta donasi penonton hingga sekitar Rp1,3 miliar.

Sementara itu, pendiri Yayasan Otak Indonesia (YOI) yang juga Dekan FK UPH dr.Eka J.Wahjoepramono mengatakan, pergelaran tersebut merupakan inisiatif para tenaga medis RS.Siloam dan mahasiswa FK UPH untuk memberikan sumbangan dana bagi para penderita penyakit otak melalui YOI, sekaligus untuk menyalurkan bakat seni terpendam mereka.

"Ini pertamakalinya di dunia dengan para dokter, perawat dan mahasiswa kedokteran menggelar acara pertunjukan kabaret," kata dia.

Dikatakan, YOI -- yang berdiri sejak tahun 2000 dan berkantor di RS.Siloam, Lippo Karawaci --   hingga kini telah memberikan bantuan dana untuk pengobatan dan operasi bedah otak bagi sekitar 200 pasien tidak mampu.

"Banyak sekali pasien tidak mampu yang meminta bantuan dana kepada kami karena biaya pengobatan dan operasi bedah otak ini memang mahal. Sekali operasi bedah otak bisa memakan biaya sedikitnya Rp50 juta. Karena itu kami mengharapkan adanya donasi dari masyarakat," kata Eka.(ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau