Olahraga Sambil Rekreasi

Kompas.com - 01/11/2008, 06:36 WIB

Kesadaran orang untuk membuat raga makin bugar semakin tinggi. Jika bosan berolahraga di taman kota, cobalah berolahraga di pantai. Selain mendapat suasana baru, udara di pantai lebih segar dan bersih karena jauh dari polusi. Seusai berolahraga, Anda bisa sarapan dan menenteng hasil laut segar hasil belanja di sana.

Berjalan kaki, joging, dan senam merupakan jenis olahraga yang banyak dipilih warga karena mudah, murah, tetapi menyehatkan. Tak heran bila pada akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu pagi, taman-taman kota di seantero Jakarta dan sekitarnya penuh warga yang sedang gerak badan.

Taman Monas sejak puluhan tahun lalu menjadi salah satu tempat warga Jakarta dan sekitarnya untuk berolahraga. Ratusan bahkan ribuan warga bisa jalan kaki, pijat refleksi di atas batu yang ditata khusus atau main bola di sana.

Taman-taman kecil di Jakarta Barat, taman dalam perumahan Alam Sutera, BSD City, Gading Serpong, dan Bandara Mas di Tangerang tak luput dari serbuan warga untuk berolahraga.

Namun, berolahraga di pantai akhir-akhir ini menjadi tren warga. Area pantai di dalam kompleks Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, menjadi tujuan warga berolahraga.

Tiap Sabtu dan Minggu pagi, sejak pukul 05.00 sampai pukul 10.00, hampir semua sisi pantai Ancol menjadi tempat berolahraga.

Di beberapa tempat seperti Pantai Carnaval, Puteri Duyung Cottage, dan sekitar Dermaga One digelar senam pagi yang menyedot ratusan pengunjung. Para instruktur menggunakan pengeras suara yang memperdengarkan lagu berirama rancak hingga membuat pendengarnya ikut senam.

Pada Minggu (26/10) lalu, misalnya, pasangan lansia ikut bersenam dengan riang di Pantai Carnaval. Anak-anak dan para remaja heboh naik sepeda.

Bergeser ke pantai dengan jembatan kayu tampaklah pemandangan memesona. Sembari olahraga di jembatan sepanjang sekitar 1.000 meter itu, kita juga bisa melihat kapal layar sewaan dan ubur-ubur lewat, wow!

Umumnya pengunjung datang sebelum pukul 06.00, seperti Budiman, warga Perumahan Taman Palem, Jakarta Barat, yang datang bersama keluarganya.

Sinar matahari mulai panas, namun orang-orang masih lalu lalang di jembatan. Ada seorang lansia duduk di kursi roda didorong kerabatnya serta pejalan kaki membawa anjing-anjing cantik.

”Dulu kami sering ke Puncak, tapi macet sekali. Lagian kami ingin ganti suasana, maka kami pilih ke pantai ini. Udara pantai kan bagus untuk paru-paru,” tutur Dedy (61) dan Oscar (58), warga Sunter, Jakarta Utara. Kedua lelaki itu sejak enam bulan lalu rutin berjalan kaki atau joging di Ancol.

Orang datang ke Ancol tak hanya untuk olahraga, tapi juga ingin mengajak keluarga rekreasi. Ny Made, misalnya. ”Kami olahraga, anak dan cucu mandi di sana,” katanya menunjuk ke arah orang berenang di pantai.

Corporate Secretary PT Pembangunan Jaya Ancol Falaah K Djafar menjelaskan, bisa jadi tarif masuk Ancol setengah harga (Rp 5.000 per orang) makin membuat banyak orang berolahraga ke Ancol. ”Tarif itu berlaku sampai pukul 07.00,” ujar Falaah.

Setelah berolahraga, pengunjung bisa makan bubur atau menu lainnya. Atau bisa pula belanja ikan, rajungan, atau kepiting segar yang dijual nelayan yang baru pulang melaut.

Monas tetap favorit

Penggemar olahraga yang tak suka pergi jauh biasanya memilih Monas sebagai tempat membuat tubuh bugar. Kompleks taman yang diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno itu menjadi pilihan bagi Sisilia (36), warga Pulo Asem, Jakarta Timur, untuk berolahraga. Terlebih ketika putri bungsunya masih bayi. ”Tujuannya mencari sinar matahari dan berolahraga,” kata Sisilia.

Sinar matahari buat putrinya, Evita (2), sementara tempat olahraga untuk suami dan putranya, Emil (10). ”Emil senang main sepeda dan main bola. Kalau suami saya senang lari pagi keliling Monas,” cerita dia.

Bagi Sisilia, Monas yang cukup rindang lebih menarik ketimbang Ancol. ”Ancol itu suasananya bukan untuk olahraga, tetapi untuk pesiar dan sedikit berolahraga. Soalnya godaan untuk makan dan bermain besar. Restoran dan fasilitas hiburan banyak banget. Sementara suasana di Monas memang mengajak kita berolahraga,” jelas dia.

Pedagang makanan dilarang masuk ke area seluas 80 hektar itu. Mereka yang ingin sarapan harus keluar area taman.

Selain itu, bagi banyak warga, berolahraga di Monas jauh lebih murah. Warga yang ingin berolahraga di Monas tidak dipungut biaya masuk, cukup membayar parkir. Bagi warga yang tak membawa kendaraan pribadi, Monas juga mudah dijangkau dengan kendaraan umum.

”Suasana hijau dan segar sangat diperlukan warga Jakarta yang selalu kemasukan asap polusi,” tegas Cynthia, warga Ksatrian Matraman yang kerap berolahraga ke Monas. Ia sangat menikmati kerindangan pohon di sana. Di mana pun tempatnya, olahraga bersama keluarga membuat sehat dan akrab.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau