Obama Sukar Terbendung, McCain Harapkan Kejutan

Kompas.com - 04/11/2008, 06:55 WIB

Budiarto Shambazy dan Simon Saragih

CHICAGO, SELASA - Hari Selasa (4/11) ini, 168 juta rakyat Amerika Serikat memilih presiden baru di 50 negara bagian. Sebanyak 20 juta lainnya telah memilih lebih awal di 30-an negara bagian. Siapa presiden AS yang ke-44, John McCain (72) atau Barack Obama (47), bisa diketahui di Indonesia, Rabu (5/11) malam WIB.

Pencoblosan berlangsung sejak pagi hari dan penutupan TPS dilakukan antara jam 19.00 hari Selasa sampai 01.00 hari Rabu waktu setempat. Semuanya tergantung dari aturan dan perbedaan waktu masing-masing negara bagian.

Diperkirakan akan tercatat rekor baru jumlah pemilih terdaftar yang menggunakan suaranya, yakni 130-135 juta atau 15-20 persen lebih banyak dari jumlah pemilih pada pilpres tahun 2004.

Obama diperkirakan telah mengungguli McCain 2:1 dari 20 juta-an pemilih yang mencoblos lebih awal karena besarnya partisipasi pemilih yang terdaftar resmi sebagai anggota Demokrat. Sampai kemarin semua lembaga jajak pendapat yang berpengaruh menunjukkan konsistensi keunggulan Obama, fenomena yang belum berubah drastis sejak ia memenangi Konvensi Partai Demokrat akhir Agustus lalu dengan menyingkirkan Hillary Clinton.

Namun, sejak akhir pekan lalu terdapat tanda-tanda positif yang memperlihatkan McCain memperkecil perbedaan poin. Misalnya jajak pendapat Pew Research Center yang bergengsi dalam survei finalnya yang dirilis Minggu (2/11) menunjukkan Obama unggul tujuh poin (49-42 persen) dibanding 15 poin pekan lalu.

"McCain menambah suara dari kulit putih, kelompok independen, mereka yang berpenghasilan menengah, serta anggota resmi Republik yang mau memilih," ujar Andrew Kohut dari Pew.

Tetapi, Kohut menambahkan penambahan itu kurang signifikan karena jarak yang lebar. "Keunggulan (Obama) ini cukup substantif. Belum pernah adaan keunggulan kandidat sebesar ini sejak tahun 1996 saat Bill Clinton unggul atas Bob Dole di pekan terakhir kampanye," ujar Kohut.

Berharap kejutan

Tak heran kubu McCain dan Republik tinggal berharap pada "kejutan" (the unexpected is the expected) seperti tahun 1948. Saat itu calon Demokrat yang unggul di berbagai jajak pendapat, Thomas Dewey gagal mengalahkan Presiden Harry Truman dengan selisih suara 4,5 persen.

McCain, yang kemarin berkampanye di Nevada, agak memperbaiki posisinya berkat janji-janjinya mengatasi krisis keuangan. Namun, Sarah Palin yang terbukti gagal mengangkat citra McCain sampai kemarin masih tetap berkutat dengan serangan-serangan kampanye negatif terhadap Obama.

Senin kemarin Obama dan isterinya, Michelle tampil bersama musisi rock paling populer di AS saat ini, Bruce "The Boss" Springsteen di Cleveland, Ohio. Ia menyatakan "merasa nyaman" dengan kemungkinan hasil pilpres. "Dalam beberapa hari terakhir saya merasa nyaman," katanya di depan sekitar 80.000 hadirin. Dalam wawancara khusus dengan Wolf Blitzer (CNN), Obama mengemukakan lima skala prioritas jika terpilih.

Pertama, ia akan berupaya mencapai kesepakatan dengan Kongres untuk menggelontorkan bail out/paket stimulus yang kedua mengatasi krisis. Kedua, segera merumuskan program melepaskan ketergantungan energi dari luar negeri. Ketiga, membenahi program jaminan kesehatan agar terjangkau semua kalangan. Keempat, merumuskan program potongan pajak bagi 95 persen (sekitar 100 juta kepala keluarga) kelas menengah berpenghasilan maksimal seperempat juta dollar AS pertahun. Dan, prioritas kelima memperbaiki sistem pendidikan agar anak-anak menikmati kurikulum memadai dan uang sekolah yang terjangkau.

Gairah besar terhadap Obama setidaknya terlihat dari habisnya persediaan merchandizing Obama baik berupa kaus, poster, stiker, gantungan kunci, dan berbagai jenis barang lainnya di banyak toko tanda mata. "Tak pernah ada barang yang laku secepat kilat seperti kali ini," ujar seorang penjaga toko yang menyarankan calon pembeli berbelanja ke daerah pinggiran kota.

Media internasional juga sudah mulai berdatangan, termasuk dari Palestina, Brasil, China, dan sejumlah negara Eropa untuk merekam peristiwa bersejarah di kota berpenduduk 2,9 juta yang kini disebut sebagai "Obama City" ini. (National Public Radio/Chicago Tribune/CNN/AP)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau