Di Jakarta, rumah berlantai dua sudah biasa. Terbatasnya luas lahan, membuat warga harus membuat rumahnya "tumbuh" ke atas. Tapi, bagi warga yang tinggal di bantaran kali, lantai dua rumahnya mempunyai fungsi berbeda. Tak sekadar menambah luas bangunan, namun menjadi "bungker" penyelamat saat banjir datang.
Yuk, kita lihat seperti apa "bungker" ala para warga bantaran kali...
Memasuki kawasan Kampung Pulo, apalagi sampai ke dalamnya, kita akan menjumpai kawasan pemukiman padat. Semakin ke dalam, jalan yang dilalui semakin menjadi jalan senggol alias sempit. Kawasan ini, terletak langsung di bantaran Kali Ciliwung.
Musim hujan seperti saat ini, para warga di sana mulai repot. Mengungsikan barang dan orang tua yang tinggal bersama mereka. Rumah di sana, hampir tak ada yang tak memiliki dua lantai. Lantai dua, selalu dijadikan tempat mengungsikan barang-barang berharga agar tak terendam banjir.
Endah, warga RT 14 RW 03 Kampung Pulo Dalam bercerita, lantai dua rumahnya sudah berusia puluhan tahun. Kata Endah, rumah yang ditempatinya saat ini adalah warisan orang tua. Saking tuanya rumah itu, ia pun tak tahu berapa umur "bungker" lantai atas rumahnya itu.
"Sejak dibangun, kayanya rumah-rumah di sini udah bikin lantai dua. Kalo enggak ada, mau ke mana kalau banjir?," kata Endah, Selasa (4/11).
Menilik lantai dua rumah Endah, memang tak terlalu luas. Terdapat hamparan kasur, alat-alat elektronik dan beberapa rak yang menjulang keatas. Rak-rak tersebut dijadikan tempat mengamankan barang dagangannya (Endah membuka warung kecil di rumahnya), surat-surat berharga dan buku-buku kedua anaknya.
"Istilahnya gini, lagi musim panas di bawah, musim hujan di atas, hahaha...," kisah Endah tentang posisi barang-barang yang ada di rumahnya. Tinggi lantai dua bangunan itu hanya tujuh anak tangga yang terbuat dari kayu.
Endah sendiri merasa "tersiksa" saat hujan dan banjir datang. "Kalau di atas dingin banget. Enaknya bisa langsung liat sungai, jadi tau perkembangan air," ujarnya.
Lokasi rumah Endah, langsung berhadapan dengan sungai, tanpa dihalangi rumah di depannya. Beberapa tahun lalu, rumah di depan rumah Endah hanyut terbawa banjir.
"Bungker" Bikin Betah
Lain Endah, lain lagi cerita Nining. Rumahnya, hanya berjarak sekitar 3 meter dari bibir kali. Nining sudah 10 tahun menghuni rumah kontrakannya di RT 11 RW 10 Poncol, Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Ia mengaku, betah tinggal di kontrakan tersebut justru karena lantai dua rumah itu.
"Enggak tahu, enak aja. Kalau enggak banjir saya sukanya tidur di sini. Walaupun dingin. Tapi suara sungainya itu, malah saya suka dengernya. Cuma, kalau musim hujan memang jadi berantakan, buat tempat ngungsiin kulkas, TV, jadi penuh, berantakan kaya gini," kata Nining menunjukkan barang-barang yang telah dipindahkannya dari lantai satu ke lantai dua.
Satu hal yang dikhawatirkan Nining. Kayu-kayu yang menopang lantai dua rumahnya akan lapuk karena sering terendam air. "Sampai sekarang sih enggak apa-apa, tapi udah 10 tahun enggak pernah diganti takut tiba-tiba rapuh aja," ujar dia.
Bagi warga bantaran kali, lantai dua rumah juga menjadi patokan apakah banjir yang datang dalam skala besar atau kecil. Mereka mengaku, jika air belum menyentuh lantai dua rumahnya, maka banjir yang datang masih biasa-biasa saja. Keputusan mengungsi baru mereka ambil, setelah banjir merendam hingga sebetis orang dewasa jika berada di lantai dua. Bisa membayangkan, berapa ketinggian airnya?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang