Indonesia Tak Akan Menangis seperti AS

Kompas.com - 07/11/2008, 16:29 WIB

JAKARTA, JUMAT — Syarat persentase pengajuan calon presiden, yaitu 20 persen kursi di DPR atau 25 persen perolehan suara nasional, dipastikan akan menghasilkan tak lebih dari empat pasangan calon. Menurut pakar hukum tata negara, Irman Putra Sidin, jumlah itu akan mempersempit ruang kompetisi. Akhirnya, calon yang muncul adalah muka-muka lama.

Hasilnya? Ia memastikan, Indonesia tak akan menangis haru siapa pun presiden yang terpilih pada Pemilu 2009. Tak seperti Amerika yang menangis terharu saat Barack Obama menang dalam pemilu AS, tiga hari lalu. "Yang muncul pasti yang itu-itu saja. Saya pribadi tidak terlalu semangat. Kita rindu saat presiden terpilih, kita akan menangis dan itu tidak akan terjadi pada 2009 dengan kompetisi yang semakin sempit," kata Irman dalam diskusi "Capres tentang UU Pilpres. Judicial Review untuk Demokrasi" di DPR, Jumat (7/11).

Pertarungan riil bisa diprediksi hanya akan terjadi antara Megawati dan SBY, sedangkan calon-calon lain yang sudah bermunculan masih membaca peluang dan mencari ruang untuk tampil. "Indonesia tak akan terharu menangis," ulangnya.

Irman mengatakan, dengan ketentuan yang tertuang dalam UU Pilpres baru, tidak akan menjamin menghasilkan presiden yang kuat. Namun, lebih besar untuk membuka ruang demokrasi. Ia sendiri berpendapat, lebih baik ruang demokrasi sempit, tetapi menghasilkan presiden yang kuat.

Sementara itu, Sutiyoso, mantan Gubernur DKI yang telah mencapreskan diri, urung hadir karena pesawatnya mengalami penundaan dari Bengkulu. Namun, dalam rilisnya yang dibagikan kepada wartawan, Sutiyoso mengatakan, ketentuan syarat persentase yang dirancang DPR hanya untuk kepentingan sesaat partai politik yang ada di DPR. "Parpol yang ada di DPR saat ini tidak ingin memberikan kesempatan kepada anak bangsa yang memiliki potensi untuk bisa ikut serta dan dipilih rakyat," kata Sutiyoso.

Menurut dia, pembatasan syarat capres dalam UU Pilpres bukan untuk penguatan sistem presidensial, tetapi hanya untuk melanggengkan kekuasaan parpol yang saat ini berkuasa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau