Pertempuran Sengit Dekat "Ibu Kota" Macan Tamil

Kompas.com - 08/11/2008, 04:20 WIB

KOLOMBO, SABTU - Pertempuran sengit merebak di wilayah Wanni, Sri Lanka utara, saat pasukan pemerintah meningkatkan tekanan pada kota Kilinochchi, ”ibu kota” politik pemberontak Front Pembebasan Macan Tamil atau LTTE.

Pihak keamanan Sri Lanka, Jumat (7/11), melaporkan, pertempuran selama berjam-jam meletus hari Kamis di Desa Panikkankulam. Aksi ini saat tentara bergerak ke arah jalan raya utama, memotong wilayah yang dikuasai pemberontak di Sri Lanka utara.

Kontak senjata menyebabkan ”kerusakan besar” pada kelompok Macan Tamil. Dilaporkan, sejumlah personel Macan Tamil tewas.

Tidak disebutkan berapa besar korban di pihak militer. Disebutkan, jenazah tujuh anggota Macan Tamil ditemukan oleh pasukan pemerintah setelah pertempuran hari Kamis itu.

Pertempuran baru terjadi saat tentara pemerintah mendekat dan mengepung ibu kota ”administratif” pemberontak, Kilinochchi, sekitar 330 kilometer sebelah utara Kolombo. Hujan lebat dan aksi perlawanan pihak pemberontak memperlambat gerak maju militer.

Presiden Mahinda Rajapaksa, yang juga Menteri Pertahanan Sri Lanka, Kamis, telah meminta Macan Tamil meletakkan senjata dan menyerah.

”Permintaan saya kepada pemberontak adalah meletakkan senjata dan bergabung dalam proses demokratis, bahkan pada taraf sekarang ini,” kata Presiden saat mengajukan anggaran perang pada parlemen.

”Kalau tidak, mereka akan kalah secara militer. Kami telah sampai pada sebuah tahap di mana kami yakin bahwa kami harus dan kami dapat menghapus terorisme,” katanya.

Hari Kamis, Rajapaksa berusaha mendapatkan persetujuan dari parlemen untuk anggaran pertahanan terbesar Sri Lanka.

Partai Aliansi Nasional Tamil, dengan 22 kursi dari 225 anggota parlemen, meninggalkan ruangan saat Rajapaksa berpidato. Aksi ini dilakukan sebagai protes bahwa penduduk sipil Tamil menjadi sasaran aksi militer pemerintah.

Rajapaksa, yang juga menjadi Menteri Keuangan, mengusulkan belanja pertahanan 2009 sebesar 177 miliar rupee, sebuah peningkatan 6,4 persen dari 166,4 miliar rupee atau sekitar Rp 15,7 triliun yang dialokasikan tahun ini.

Anggaran Rajapaksa itu diperkirakan diperdebatkan selama tiga pekan. Kalau itu gagal disetujui, pemerintah bisa jatuh, menyebabkan pemilu baru.

Dalam pidatonya, Rajapaksa mengatakan para tentara Sri Lanka telah merebut beberapa pangkalan pemberontak dan wilayah luas di utara yang didominasi Tamil. Militer dilaporkan sudah hampir mengalahkan pemberontak Macan Tamil.

Pasukan pemerintah telah mencatat kemajuan dramatis dalam bulan-bulan terakhir di front utara. Namun, pihak pemberontak Tamil yang sudah 25 tahun angkat senjata memberikan perlawanan keras. Tentara kini semakin mendekati Kilinochchi.

LTTE berperang sejak 1983 untuk membentuk sebuah wilayah independen bagi minoritas etnis Tamil. Etnis Tamil ingin berpisah karena perlakuan marjinalisasi di tangan pemerintah yang didominasi etnis Sinhala.

 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau