Pantai Selatan Yogya Mengkhawatirkan

Kompas.com - 09/11/2008, 13:46 WIB

YOGYAKARTA, MINGGU — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Yogyakarta mengimbau penduduk sekitar pantai selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk menanam pohon di sepanjang pesisir pantai sebagai upaya mencegah peningkatan abrasi di pantai tersebut.

"Dibandingkan dengan membangun pagar atau bendungan dari beton, jauh lebih baik ditanami dengan tanaman, tetapi tanamannya harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pantai," kata Ketua Walhi DIY Suparlan, Minggu (9/11).

Menurut Suparlan, tanaman pantai dapat menjadi penyangga ekologi sekitar pantai. Dan, semestinya tiap pemerintah daerah yang memiliki pantai segera menyiapkan lahan di sepanjang pantai untuk ditanami pohon. Ia menambahkan, pantai di Kabupaten Bantul lebih cocok ditanami pohon cemara udang.

"Pantai di Kabupaten Bantul memiliki keistimewaan, yaitu mempunyai gumuk pasir yang bagus untuk mencegah abrasi karena dapat digunakan sebagai benteng yang mencegah aliran air laut ke daratan," katanya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul Gendut Sudarta mengatakan, abrasi paling parah terjadi di pantai Kecamatan Samas. "Pantai tersebut sebenarnya tidak ideal lagi untuk ditempati dan ditinggali penduduk. Setidaknya 300 meter dari daerah pasang tertinggi dan 10 meter dari bibir pantai jangan ditempati karena alasan keamanan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau