Sultan: Saya Hanya Ingin Mengabdi

Kompas.com - 10/11/2008, 22:55 WIB

JAKARTA, SENIN - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku tidak berambisi dengan kekuasaan namun niatnya untuk bersedia maju menjadi salah satu calon presiden pada 2009 adalah karena ingin mengabdi kepada rakyat. "Saya tak ambisi untuk merebut kekuasaan, saya hanya mau mengabdi. Karena itu saya tidak menyiapkan kendaraan politik. Kalau rakyat membutuhkan saya, mestinya parpol mau melakukan lobi untuk mendukung saya," katanya di  Jakarta, Senin (10/11) malam.

Hal tersebut ditegaskan Sultan ketika menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bertema "Kawasan Timur Cari Presiden Baru 2009" yang diselenggarakan Gerakan Solidaritas Kebangkitan Ekonomi Kawasan Timur Indonesia (TATA KTI).

Selain Sri Sultan, pembicara lain dalam diskusi tersebut antara lain mantan Menko Ekuin Rizal Ramli, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, dan staf ahli Menteri Pertanian Iskandar A Nuhung. Bertindak selaku moderator dalam acara itu adalah Presiden TATA KTI Zainal Bintang.

Sultan mengatakan, dirinya tidak berani mengatakan lebih baik dari calon presiden yang lain. "Tetapi apa artinya calon presiden yang bilang ingin merubah tapi rakyatnya tidak berubah. Mestinya tanya ke rakyat apakah mau berubah, kalau mau maka carilah pemimpin yang membawa perubahan. Pemimpin itu harus mau berubah, memihak ke rakyat," katanya.

Sultan menegaskan, ia memberanikan diri untuk maju menjadi calon presiden karena sudah tidak tahan lagi menghadapi reformasi yang sudah 10 tahun berjalan namun tidak menghasilkan perubahan apa-apa. Karenanya, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk memilih pemimpin yang bicara Indonesia, yakni yang mengerti keadaan rakyat sehingga mampu membangun rasa keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Sultan mengatakan, mantan Presiden Soekarno merupakan "orang Jawa yang meng-Indonesia" karena tidak berhasil membangun rasa adil bagi bangsanya, sehingga muncul pemberontakan PRRI Permesta. Mantan Presiden Soeharto, katanya, juga "orang Jawa yang meng-Indonesia" karena menerapkan pola sentralistik, tidak boleh beda, sehingga terjadi Jawanisasi.

"Untuk tidak mengulang itu, carilah pemimpin yang namanya Indonesia, yang mengerti keadaan rakyat, membangun kerukunan bangsa, tidak membedakan satu sama lain, sehingga semua merasa terlindungi, terayomi dan merasa diperlakukan adil," katanya.

Sultan berharap, pemimpin mendatang mau mengubah strategi dalam kebijakan yang tadinya bersifat kontinental menjadi bersifat maritim.

Pemimpin pemberani

Sementara itu, mantan Menko Ekuin Rizal Ramli mengatakan, Indonesia memerlukan pemimpin yang berani mengambil risiko. "Tidak ada bangsa yang maju kalau pemimpinnya tidak berani mengambil risiko," tegas Rizal Ramli yang juga telah menyatakan akan mencalonkan diri sebagai calon presiden pada 2009.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak memberi kesempatan kepada pemimpin yang telah gagal menyejahterakan rakyatnya. "Tahun 2009 harus menjadi awal kebangkitan rakyat, Indonesia harus menjadi negara besar di Asia," katanya.

Ia menyebut pemimpin ke depan harus peduli terhadap kemajuan pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI) agar bisa sejajar dan maju dibandingkan Kawasan Barat Indonesia.

Sementara itu, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad yang juga bersedia untuk maju menjadi capres pada 2009 mengatakan, rakyat semestinya mau memilih pemimpin yang mau membuat strategi kebijakan yang berbeda dengan yang sekarang. "Pilihlah pemimpin yang pro KTI dan punya strategi membangun KTI, berani, terpercaya, dan punya rekam jejak yang baik," katanya.

Fadel mengaku sebagai gubernur telah menjadikan Gorontalo sebagai laboratoriumnya sebelum mempraktekkannya dalam skala yang lebih besar yakni menjadi pemimpin nasional. "Pemimpin harus berani untuk mengeluarkan kebijakan ekonomi khusus bagi daerah-daerah tertinggal, termasuk KTI. Mestinya ada perlakuan berbeda untuk daerah-daerah tertinggal yang membutuhkan instrumen infrastruktur yang besar seperti di KTI," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau