MAGETAN, SELASA - Petani di sejumlah desa di Kabupaten Magetan telat memberikan pupuk ke tanaman padinya sebagai akibat sulitnya memperoleh pupuk. Terlatnya pemberian pupuk akan berimbas pada pertumbuhan padi dan produksi gabah yang dihasilkan saat panen nanti.
Berdasarkan pengamatan, Selasa (11/11), petani yang kesulitan memperoleh pupuk ini berada di Desa Sukomoro, Bulu, dan Kedungguwo di Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan. Di Desa Takeran, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, petani juga kesulitan memperoleh pupuk.
Menurut Ajis, petani di Desa Sukomoro, tanaman padinya baru diberikan pupuk saat usianya sudah berusia sepuluh hari. Sementara idealnya, tanaman padi sudah diberi pupuk pada usia tujuh hari. Adapun Mardi, petani di Desa Kedungguwo, mengatakan padinya yang sudah berusia 20 hari belum diberikan pupuk sama sekali.
Semua kios pupuk kehabisan pupuk, keluh Ajis. Di kios pupuk di Kedungguwo dan Bulu, persediaan pupuk urea sudah habis sejak satu minggu yang lalu. Sampai kemarin pagi, belum ada lagi kiriman pupuk urea.
Sekarang ini ada peraturan baru, petani harus membeli pupuk di kios di desanya, tidak boleh membeli di kios di desa lain. Namun hal ini menyulitkan petani karena pasokan pupuk di kios tidak mencukupi kebutuhan petani, ujar Mardi. Sementara Ajis bisa memperoleh pupuk bukan dari kios pupuk tetapi meminjam dari petani tebu yang memiliki kelebihan pupuk. Karena jumlahnya terbatas, jumlah pupuk yang bisa dipinjamnya masih jauh dari yang dibutuhkannya.
Dia hanya bisa meminjam 1,5 kuintal urea dari kebutuhan enam kuintal urea dan 50 kilogram pupuk NPK Phonska dari kebutuhan dua kuintal. " Sekarang saya masih bingung mau cari pupuk ke mana," tambahnya.
Telatnya pemberian pupuk ke padi, menurut Ajis dan Mardi, akan berpengaruh pada pertumbuhan padi dan produksi gabah saat panen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang