Deteksi Kanker Payudara Sendiri Pun Bisa!

Kompas.com - 12/11/2008, 13:33 WIB

SEJUMLAH wanita yang hadir dalam seminar "Embrace Life with Breast Cancer" di CityWalk Sudirman, Jakarta, Rabu (12/11), merupakan mantan penderita kanker payudara. Setelah bertutur betapa susah payahnya melalui masa-masa penyembuhan, mereka berharap tak ada lagi wanita-wanita yang menderita kanker payudara dalam kategori ganas.

"Saya berdoa, cukup Gusti, saya saja yang mengalami penyakit ini. Sakit sekali. Mahal pula," ujar Enny Hardjanto, mantan penderita kanker payudara yang bersaksi bagaimana dirinya bertahan dalam masa-masa penyembuhan.

Menurut spesialis bedah tumor dari RSCM, dr Erwin Danil Yulian, Sp B (K) Onk, walaupun makin banyak kanker payudara yang didiagnosis pada stadium dini, masih banyak wanita yang datang dengan stadium lanjut.

Dengan kondisi seperti ini, sulit sekali untuk mencari cara penanganan dan penyembuhan yang mudah dan tak menyakitkan. Kemoterapi bahkan operasi menjadi jalan keluarnya. Padahal, bila mereka datang pada kondisi jinak, pengobatannya akan menjadi lebih mudah.

"Yang penting ingat, deteksi dini," tutur Erwin seusai seminar berlangsung.

Deteksi dini yang dimaksud Erwin sangat mudah. Wanita bisa melakukan "Sadari" atau periksa sendiri di rumah masing-masing untuk mengetahui apakah ada cikal bakal tumor atau kanker di payudaranya.

Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cara mengangkat tangan kiri ke atas lalu meraba payudara sebelah kiri dengan cara memutar, sentrifugal atau sentripetal. Begitu juga dengan payudara sebelah kanan.

"Kalau menemukan benjolan, segera periksa. Jangan main-main. Biasanya langsung akan diperiksa klinis dan kalau perlu USG," ujar Erwin.

Memang, menurut Erwin, benjolan wajar ditemukan pada payudara wanita apalagi menjelang masa menstruasi. Namun, jika hal itu menjadi sesuatu yang tetap ada,  Erwin meminta para wanita untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Tren  meningkat

Meski belum dapat mengungkapkan jumlah pasti penderita kanker payudara di RSCM, Erwin mengatakan tren kanker payudara pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun 2007. Hal ini dilihat dari meningkatnya penderita dari kalangan ekonomi lemah yang tak dapat berobat ke negara-negara tetangga.

"Mereka tetap dioperasi di sini (di RSCM)," ujar Erwin.

Selain itu, cakupan umur para penderita juga melebar. Jika dulu para penderita yang datang pertama kali terdeteksi mengidap kanker payudara umumnya berumur 40-46 tahun, RSCM mencatat seorang wanita muda berumur 24 tahun telah didiagnosis mengidap kanker.

Namun, Erwin menyatakan, jumlah penderita kanker payudara stadium dini yang datang memeriksakan diri juga bertambah. Hal ini tentu saja karena dukungan sosialisasi dan kampanye pencegahan kanker payudara yang makin intens. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau