Di Balik Aksi Nekad Greenpeace, Adon Nyaris Diterjang Peluru

Kompas.com - 14/11/2008, 05:44 WIB

Oleh Rahmadi

Aktivis Greenpeace sepertinya ditakdirkan untuk selalu berhadapan dengan marabahaya. Diberondong tembakan hingga ditahan di kantor polisi merupakan sebagian dari risiko yang mereka hadapi

Bermain-main dengan bahaya sepertinya menjadi sarapan Muhammad Adonian Canarisla. Selasa (11/11) lalu, pria bertubuh kurus itu, baru saja 'mengobral' nyawa dengan mengunci diri di rantai jangkar kapal Gran Couva Hongkong yang sedang bersandar di Pelabuhan Dumai.

Aksi itu tentu saja sarat bahaya. Bayangkan saja, jika awak kapal pengangkut minyak sawit menarik rantai jangkar, dipastikan Adon-begitu sapaan akrabnya- akan meregang nyawa. Namun, ia tetap saja nekat. Pria bertubuh kurus itu dengan tenang tetap bertahan mengunci
diri di rantai jangkar.

Melihat perawakan Adon, kita tak akan percaya, pemuda yang bergabung sebagai volunteer di Greenpeace sejak tiga tahun lalu itu bakal berani menghadang marabahaya. Tubuh kurus plus wajah yang terkesan lugu membuat Adon jauh dari kesan nekat.

Namun jangan salah sangka, aksi yang dilakukannya di kapal Gran Couva belumlah seberapa. Sebelumnya, Adon tercatat telah enam kali melakukan aksi berbahaya. Tiga di antaranya, dilakukan Adon di Thailand dan Filipina.

Aksi pertama ia lakukan di Thailand pada tahun 2006, aksi kedua di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta tahun 2007, aksi ketiga di PLTU Jepara tahun 2007 dan tiga aksi terakhir di lakukan tahun 2008, masing-masing di Philipina, kembali ke Thailand serta di Dumai dengan
mengikat diri pada rantai jangkar kapal. Seluruh aksi pria kelahiran Bogor, 14 Mei 1984 ini selalu berkaitan dengan pemanjatan, sebab latar belakangnya bergabung di Greenpeace adalah sebagai Climber.

Menurut pria yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Politeknik Kesehatan Jakarta II, Jurusan Teknik Elektro Medik ini, aksi mengunci diri pada rantai jangkar kapal belum lah seberapa berbahaya. Dari enam aksi yang telah ia lakukan, yang paling berbahaya dan sangat mendebarkan pada saat memanjat tangki penampung batu bara PLTU Jepara. Saat itu, aparat bersenjata laras panjang sempat melepaskan tembakan.

Dalam kondisi kritis seperti itu, Adon harus berfikir dan menentukan langkah secara cepat. Di satu sisi, Adon harus mempertahankan agar aksi bisa berjalan selama mungkin, di sisi lain Adon harus berfikir menjaga keselamatan jiwa dari terjangan peluru aparat.

"Saat itu kami memilih memasang banner dengan segera dan memilih turun," katanya kepada Tribun, Rabu (12/11), ketika di temui di Kapal MV Esperanza, sekitar 2 mill laut dari Pelabuhan Dumai. Soal ancaman hukuman usai melaksanakan aksi nekatnya, boleh di bilang Adon sudah cukup kenyang. Hampir seluruh aksi yang ia lakukan berdampak pada ancaman kurungan penjara. Namun paling lama hanya 1 x 24 jam di Polda Metro Jaya gara-gara memanjat tugu Bundaran HI.

Tidak hanya itu, aksi-aksi nekat yang ia lakukan seluruhnya secara mendadak. Biasanya perencana aksi Greenpeace baru memberitahukan beberapa saat sebelum aksi berlangsung. Langkah itu di lakukan guna menghindari kebocoran aksi hingga ke aparat keamanan. Meski demikian, Adon mengaku tidak pernah merasa takut, baik itu terhadap keselamatan diri maupun terhadap ancaman hukuman. Bahkan Adon merasa bangga dan masih ingin bersama Greenpeace untuk melakukan aksi-aksi nekat yang paling berbahaya dan tidak pernah di lakukan orang lain.

"Satu hal yang membuat saya yakin saat melakukan aksi karena ada jaminan dari Greenpeace, termasuk menyediakan pengacara yang akan mendampingi ketika aparat hukum melakukan penindakan seperti kemarin (usai mengunci diri pada rantai jangkar kapal), apalagi Greenpeace
tidak akan memperbolehkan Volunteer-nya melakukan aksi tanpa ada pertimbangan yang matang," ucap Adon yang mengaku masih jomblo ini.

Lantas bagaimana respon orangtua Adon. "Awalnya mereka marah-marah, belakangan orangtua sudah mulai mengerti dengan aksi-aksi nekat yang saya lakukan. Sebab secara pelan-pelan saya berusaha menjelaskan bahwa aksi itu hanya simbol dari upaya menyelamatkan bumi dari kehancuran," ungkapnya.

Berbeda dengan teman-teman Adon, mereka umumnya sudah mengerti dan mendukung dengan apa yang ia lakukan. Tidak sedikit dari mereka yang mengungkapkan rasa salut dengan apa yang telah di lakukannya. "Kalau teman-teman kebanyakan bilang keren sih," ujar Adon sambil tersenyum mengakhiri perbincangan.

Aksi pertama ia lakukan di Thailand pada tahun 2006, aksi kedua di Bundaran HI Jakarta tahun 2007, aksi ketiga di PLTU Jepara tahun 2007 dan tiga aksi terakhir di lakukan tahun 2008, masing-masing di Philipina, kembali ke Thailand serta di Dumai dengan mengikat diri
pada rantai jangkar kapal. Seluruh aksi pria kelahiran Bogor, 14 Mei 1984 ini selalu berkaitan dengan pemanjatan, sebab latar belakangnya bergabung di Greenpeace adalah sebagai Climber.

bersambung...

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau