JAKARTA, SABTU - Penguasaan Bahasa Indonesia ternyata menjadi kendala bagi sebagian jemaah haji asal daerah. Mereka kurang mampu berbahasa Indonesia, sehingga bila tersesat sulit diarahkan.
Media Center Haji (MCH) di Mekkah membenarkan banyak jemaah Indonesia tersesat saat di Masjidil Haram lantaran alasan baru pertama kali melakukan ibadah haji, usia lanjut sehingga mudah tertinggal dari rombongan, dan masalah bahasa.
Koordinator MCH Mekkah Rahmat Santosa, yang dihubungi Sabtu (15/11) mengatakan sebagian besar jemaah baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah suci sehingga belum hafal lokasi. "Apalagi, sebagian besar hanya mampu berbahasa daerah. Bahasa Indonesia mereka kurang lancar. Jemaah usia lanjut suka tertinggal dari kelompoknya," katanya.
Untuk mengatasi hal ini sebenarnya telah disediakan petugas penyapu yang bekerja khusus menjemut para jemaah yang tersesat. Namun, lagi-lagi kendala bahasa menjadi masalah. Selain petugas penyapu, Rahmat menjelaskan para jemaah sebenarnya telah mengenakan seragam yang membedakan dengan jemaah negara lain. Dengan begitu, saat mereka lepas dari kelompoknya dapat terdeteksi dengan mudah.
Selain itu, para jemaah juga mengenakan tanda, seperti syal untuk membedakan dengan jemaah dari kelompok lain. Tanda seperti ini sudah dipakai sejak dari embarkasi pemberangkatan.
Sementara itu, hingga pukul 07.30 waktu setempat jumlah jemaah yang telah memasuki Mekkah mencapai 8.383 orang. Mereka berasal dari 20 kelompok terbang (kloter). Menurut MCH 7 kloter jemaah lainnya masih dalam perjalanan dari Madinah menuju Mekkah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang